Literasi Data dan Penulisan Ilmiah
2026-08-21
B3 berarti kolom B, baris 3.Baris merupakan unit yang granular
Baris idealnya mewakili informasi paling rendah levelnya dan paling detail. Jadi, bukan ringkasan atau subtotal.
Formula selalu diawali tanda =:
=B3+B8 — menjumlahkan dua sel=SUM(B3:B8) — menjumlahkan rentang sel (tanda : berarti “sampai dengan”)=AVERAGE(B3:B8) — rata-rata satu rentang=COUNT(B3:B8) — menghitung berapa sel berisi angkaFungsi adalah kalkulasi siap pakai bawan dari spreadsheet — lebih ringkas daripada menulis =B3+B4+B5+B6+B7+B8 secara manual.
Kenapa ini relevan?
Skor total skala kepribadian yang akan kita pakai hari ini (mis. skor Extraversion) pada dasarnya adalah =AVERAGE() dari 10 item. Ini adalah satu formula yang sama akan Anda pakai berkali-kali sepanjang semester ini.
…seringkali bukan tabel yang siap dianalisis komputer. Perhatikan dua tabel berikut, keduanya tentang hasil panen buah:
Tabel A — per hari
| Hari | Jeruk | Apel | Buah Naga |
|---|---|---|---|
| Senin | 10 | 12 | 15 |
| Selasa | 15 | 14 | 16 |
| Rabu | 15 | 11 | 19 |
Tabel B — per bulan
| Bulan | Jeruk | Apel | Buah Naga |
|---|---|---|---|
| Januari | 453 | 637 | 234 |
| Februari | 456 | 674 | 245 |
Apa bedanya? Bukan variabelnya (sama-sama jeruk, apel, buah naga) — tapi unit analisisnya: Tabel A per hari, Tabel B per bulan.
Setiap baris harus mewakili satu unit analisis yang benar-benar unik. Dua tips penting:
Penting diingat
Dalam riset psikologi, unique identifier ini biasanya adalah ID partisipan — bukan nama, demi menjaga anonimitas sekaligus memudahkan pelacakan data longitudinal.
Diurutkan berdasarkan ID
| ID | Hari | Jumlah |
|---|---|---|
| 001 | Senin | 37 |
| 002 | Selasa | 49 |
| 003 | Rabu | 45 |
Diurutkan berdasarkan nilai
| ID | Hari | Jumlah |
|---|---|---|
| 001 | Senin | 37 |
| 003 | Rabu | 45 |
| 002 | Selasa | 49 |
Tidak ada jawaban universal, ini sangat tergantung tujuan Anda. Apakah Anda ingin melacak entri berdasarkan urutan pengumpulan? Maka, urutkan berdasarkan ID. Kalau ingin cepat melihat nilai ekstrem? Maka, urutkan berdasarkan nilai.
Wickham (2014) — tiga aturan tidy data
Dengan tidy data:
Long form (panjang)
Wide form (lebar)
| Nama | Waktu | Jumlah Makanan (gr) |
|---|---|---|
| Kucing A | Senin | 100 |
| Kucing A | Selasa | 120 |
| Kucing B | Senin | 123 |
| Kucing B | Selasa | 125 |
Satu baris = satu observasi (satu kucing, pada satu waktu tertentu).
| Nama | Senin | Selasa |
|---|---|---|
| Kucing A | 100 gr | 120 gr |
| Kucing B | 123 gr | 125 gr |
Sama-sama penyajian data yang valid, tapi bentuk wide di sini melanggar aturan tidy nomor 1 (kolom “Senin” dan “Selasa” sebenarnya sama-sama variabel “jumlah makanan”, cuma dipisah berdasarkan waktu).
Bukan berarti tabel wide selalu salah
Wide format tetap berguna untuk presentasi (mis. tabel ringkasan di naskah publikasi). Yang penting: gunakan long format untuk analisis, dan konversi ke wide kalau perlu untuk penyajian (Pertemuan 7).
Ingat dari Pertemuan 1 — dataset dari Open-Source Psychometrics Project yang akan kita pakai sampai Pertemuan 7. Strukturnya:
E1–E10, N1–N10, A1–A10, C1–C10, O1–O10), plus kolom demografis (age, gender, country, dst.).Apakah struktur ini tidy? Ya — satu variabel per kolom, satu partisipan per baris, satu tabel untuk satu jenis observasi (respons survei).
Dataset ini tidy secara struktur, tapi untuk dianalisis sebagai skor kepribadian, kita masih perlu mengubahnya:
| Sebelum (level item) | Sesudah (level skala) |
|---|---|
E1, E2, E3, ..., E10 (10 kolom) |
skor_extraversion (1 kolom) |
N1, N2, N3, ..., N10 (10 kolom) |
skor_neuroticism (1 kolom) |
skor_extraversion = AVERAGE(E1:E10) — inilah kenapa formula AVERAGE() yang kita bahas di awal tadi sangat penting. (Beberapa item butuh dibalik skornya dulu/reverse-scored — kita bahas saat membersihkan data di Pertemuan 4).
Bandingkan dua cara menyajikan ringkasan skor kepribadian yang sama:
Untuk dibaca manusia (laporan)
| Trait | Skor Rata-rata |
|---|---|
| Extraversion | 3.4 |
| Neuroticism | 2.9 |
| Openness | 3.8 |
Siap dianalisis (dataset)
| ID | Trait | Skor |
|---|---|---|
| 001 | Extraversion | 3.1 |
| 001 | Neuroticism | 2.7 |
| 001 | Openness | 4.0 |
Penting diingat
Tabel kiri cocok untuk satu slide laporan (ringkasan seluruh sampel). Tabel kanan menyimpan skor per partisipan, per trait — inilah bentuk yang bisa difilter, dibandingkan antar kelompok, dan divisualisasikan.
Susun kembali tabel “Laporan Kunjungan Konseling & Survei Kesejahteraan Mahasiswa”, yang disusun untuk dibaca manusia di bawah ini sehingga dapat dianalisis oleh komputer.
Yang harus dipertimbangkan
| Kategori Usia | Frekuensi (n) | Persentase |
|---|---|---|
| 18–22 tahun | 142 | 35.5% |
| 23–27 tahun | 168 | 42.0% |
| 28+ tahun | 90 | 22.5% |
Angka bersifat hipotetis untuk ilustrasi.
| Gender | Extraversion Tinggi | Extraversion Rendah | Total |
|---|---|---|---|
| Perempuan | 120 (60%) | 80 (40%) | 200 |
| Laki-laki | 95 (53%) | 85 (47%) | 180 |
| Total | 215 | 165 | 380 |
Angka hipotetis. Persentase di sini dihitung per baris (persentase gender dalam tiap kategori Extraversion).
Note
Kita akan kembali ke tabel seperti ini di Pertemuan 5–6 saat membahas rencana analisis dan membandingkan kelompok.
Rasio
Perbandingan relatif dua nilai; pembilang dan penyebut tidak harus berhubungan.
“Rasio partisipan perempuan dengan laki-laki adalah 200:180.”
Proporsi
Perbandingan sebagian dengan keseluruhan; pembilang termasuk dalam penyebut. Bisa desimal, pecahan, atau persentase.
“60% partisipan perempuan memiliki skor Extraversion tinggi.”
Rate
Frekuensi suatu kejadian pada populasi dalam periode waktu tertentu — umum dipakai untuk menggambarkan tingkat risiko.
“15 kasus burnout per 100 mahasiswa per semester.”
Caution
Ketiganya sering tertukar dalam laporan penelitian — kesalahan ini bisa membuat klaim Anda menyesatkan, apalagi kalau ukuran kelompok yang dibandingkan tidak sama besar (kita bahas kasus nyata soal ini di Pertemuan 6).
Tabel kontingensi juga bisa dipakai menghitung korelasi antar variabel kategorikal (nominal), misalnya odds ratio, Cramer’s V, atau tetrachoric correlation — tapi ketiganya tidak dibahas mendalam di mata kuliah ini. Cukup ketahui bahwa tabel kontingensi bukan sekadar alat penyajian, tapi juga alat analisis.
| Negara | Jumlah Partisipan |
|---|---|
| Filipina | 410 |
| Indonesia | 2.760 |
| Malaysia | 940 |
| Singapura | 780 |
| Thailand | 960 |
| Total | 5.850 |
Data hipotetis. Penyusunan alfabetis memudahkan pembaca mencari negara tertentu dengan cepat — cocok ketika tidak ada urutan besaran yang perlu ditonjolkan.
AVERAGE()) untuk dianalisis sebagai skor kepribadian.Catatan