Multigroup Structural Equation Modeling: Bagian 2️⃣
2026-05-09
| Koefisien Korelasi | Level Pengukuran |
|---|---|
| Pearson’s product moment | Kedua variabel setidaknya interval |
| Spearman’s rank dan Kendall’s tau | Kedua variabel ordinal |
| Phi, contingency table | Kedua variabel nominal |
| Point biserial | Variabel interval dengan nominal |
| Gamma, rank biserial | Variabel ordinal dengan nominal |
| Biserial | Variabel interval dengan dummy |
| Koefisien Korelasi | Level Pengukuran |
|---|---|
| Polyserial | Variabel interval dengan variabel underlying continuity |
| Tetrachoric | Kedua variabel dummy (dikotomis) |
| Polychoric | Kedua variabel ordinal (dengan kontinuitas implisit) |
Silahkan unduh dan buka Dataset Contoh Korelasi, untuk melihat contoh.
Sebagian besar perangkat lunak SEM menggunakan variance-covariance matrix bukan correlation matrix
TETAPI, menggunakan correlation matrix sebagai input SEM biasanya lebih sering menghasilkan parameter yang statistically significant tapi standard error-nya tidak akurat.
Oleh karena itu, meskipun user menginput correlation matrix, maka perangkat lunak akan mengubahnya dulu menjadi variance-covariance matrix, baru parameter model dapat diestimasi.
Asumsi dasar dalam Psikometri adalah skor kasar (observed score) mengandung skor murni (true score) dan measurement error, sehingga dalam mengestimasi korelasi, measurement error perlu “dikontrol secara statistik” agar estimasi korelasi lebih akurat.
Dengan teknik koreksi atenuasi, kita dapat ‘mengontrol’ measurement error, sehingga kita dapat mengestimasi korelasi antar-variabel menggunakan true score-nya.
Tetapi apabila reliabilitas skala kita kurang baik, maka setelah dikoreksi koefisien korelasi bisa lebih dari 1 ❗
Misalnya diketahui bahwa korelasi observed scores antar dua variabel (rab) adalah 0.9 dan reliabilitas skala a (Cronbach’s α) adalah 0.6 dan skala b adalah 0.7, maka:
Menggunakan Dataset Contoh Korelasi
Note