…dalam Kehidupan Sehari-Hari
Departemen Psikologi, Universitas Airlangga dan Research Data & Methods Team, CAIS
2026-01-30
Penjelasan 1:
Gangguan kesehatan mental terjadi akibat kombinasi faktor biologis (genetik, fungsi syaraf), psikologis (kepribadian, gaya penyelesaian masalah), dan risiko sosioekonomi (relasi interpersonal, trauma, kemiskinan). Pengobatan medis dan psikoterapi dapat membantu orang dengan gangguan kesehatan mental agar menjalani kehidupannya dengan optimal.
Penjelasan 2:
Gangguan kesehatan mental adalah ujian dari Tuhan YME yang dapat membuat kita lebih kuat secara spiritual. Kebanyakan orang dapat menemukan kedamaian dengan beribadah, mengingat Tuhan, dan yakin bahwa setiap kesulitan ada makna/tujuannya.
Warning
Penjelasan yang mana yang menurut Anda lebih meyakinkan?
Tip
Beberapa orang mungkin meyakini bahwa dua penjelasan tadi saling bertentangan, tetapi bagi beberapa yang lain, jawabannya bisa lebih rumit dari sekadar kompatibel/bertentangan.
Important
Pertanyaan teologis: “Apakah penjelasan ilmiah dan penjelasan agama kompatibel atau bertentangan?”
Important
Pertanyaan teologis: “Apakah penjelasan ilmiah dan penjelasan agama kompatibel atau bertentangan?”
Important
Pertanyaan psikologis: “Bagaimana dan pada situasi seperti apa manusia menggunakan penjelasan agama dan ilmiah?”
Apakah Anda masih ingat bagaimana Anda pertama kali belajar bahwa Tuhan dan oksigen benar-benar ada, meskipun keduanya sama-sama tidak kasat mata?

Tip
Untuk memperoleh penjelasan ilmiah, cultural input tidak terlalu penting, sehingga manusia umumnya lebih percaya diri dengan penjelasan ilmiah daripada penjelasan agama.
Selain diperoleh dengan cara yang sama, penjelasan ilmiah dan agama juga memenuhi kebutuhan psikologis yang serupa.

Selain diperoleh dengan cara yang sama, penjelasan ilmiah dan agama juga memenuhi kebutuhan psikologis yang serupa.

Selain diperoleh dengan cara yang sama, penjelasan ilmiah dan agama juga memenuhi kebutuhan psikologis yang serupa.

Important
Jika penjelasan ilmiah dan agama diperoleh/dipelajari dengan cara yang serupa dan memenuhi kebutuhan psikologis yang sama persis, apakah itu berarti keduanya secara psikologis berkompetisi dalam proses mental kita?
Warning
Jika kedua hipotesis ini benar, maka kita akan melihat berkurangnya pengaruh institusi keagamaan, seiring dengan kemajuan penelitian. Selain itu, individu akan kehilangan imannya sama sekali setelah mendapatkan pendidikan sains.
Data-data menunjukkan bahwa kedua pola ini memang terjadi, setidaknya sebagian.
Tetapi di sisi lain…
Agama tetap menjadi social force yang kuat yang memengaruhi keputusan individu. Banyak orang menganggap percaya pada Tuhan adalah hal yang esensial bagi seseorang untuk memiliki moral yang baik.
Meskipun ilmuwan biasanya cenderung tidak/kurang religius kalau dibandingkan dengan kebanyakan orang, banyak ilmuwan ternama juga merupakan pemeluk agama yang taat.
Banyak orang dari berbagai usia dan budaya ditemukan menggunakan penjelasan ilmiah dan agama secara bersamaan untuk menjelaskan berbagai fenomena, terlepas dari tingkat literasi sains yang mereka miliki. Dalam psikologi, fenomena ini disebut explanatory coexistence.
“Menurut bude, sudah takdir kepastian dari Allah. Penyakit hanya sbg trigger yang sudah Allah atur. Penyakit hanya penyebab yang diatur oleh Allah.”
— 55F, menjelaskan kematian Bude/Tantenya
“Karena sakit ya, semulanya memang stroke. Kemudian pada saat itu, jam 3 subuh beliau sesak nafas, kemudian ketika dibawa kerumah sakit ternyata beliau sudah tidak ada nyawa lagi gitu, meninggal. Jadi memang kalau melihat dari proses, faktor umur sudah tua, nenek juga tinggal bersama kami, dan disisi lain nenek juga punya riwayat asma, jadi meninggal tersebut disebabkan faktor alamiah yang memang dikatakan sudah menjadi takdir dia gitu, maut udah menjemput dia dari sang Ilahi.”
— 25F, menjelaskan kematian Neneknya
Warning
Kalau seandainya penjelasan ilmiah dan agama berkompetisi untuk memperebutkan mental resource kita, mengapa kedua penjelasan ini digunakan secara bersamaan seperti yang ditunjukkan oleh riset-riset explanatory coexistence?
Beberapa orang berpendapat bahwa bertahannya keyakinan agama di hadapan penjelasan ilmiah menunjukkan adanya defisiensi pada kemampuan penalaran akibat proses belajar yang tidak tuntas.
Namun, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa hal ini disebabkan oleh fungsi penjelasan ilmiah dan agama yang memiliki fungsi yang berbeda.
Penjelasan ilmiah dan agama digunakan untuk tujuan yang berbeda, sehingga kita menerapkan processing rules yang berbeda ketika memproses keduanya secara psikologis.
Penjelasan ilmiah berguna untuk fungsi epistemik (‘to know’), sedangkan penjelasan agama digunakan untuk tujuan non-epistemik (e.g., moral, hubungan sosial, kekuasaan, status).
Penjelasan faktual/ilmiah terbentuk secara involuntary yang ditunjang oleh bukti dan dievaluasi berdasarkan akurasinya menggambarkan realitas.
Sementara penjelasan agama diterima secara sukarela, sangat bergantung pada konteks, dan dievaluasi berdasarkan identitas dan nilai-nilai yang sifatnya normatif.
Kalaupun memerlukan bukti, penjelasan agama membutukan standar bukti yang lebih rendah daripada penjelasan ilmiah.
Kami melakukan sebuah eksperimen yang melibatkan 719 partisipan di Jerman, di mana para partisipan diberikan penjelasan ilmiah dan agama mengenai tiga krisis: banjir, krisis iklim, dan perang.
Partisipan kemudian menilai sejauh mana mereka merasa bahwa setiap penjelasan tersebut bermanfaat bagi mereka (utility ratings, 4 pernyataan, 1/sangat tidak setuju - 7/sangat setuju).
Partisipan juga mengisi skala religiusitas.
Contoh vignette
“Throughout history, human civilization has faced enormous collective adversity, including violent war. Millions of people have died, been displaced, and others have been indirectly affected by the devastating effects of violent war. “Why are there so many violent wars in the world?” you may ask. Below are plausible explanation(s) for the causes of violent war.”
Penjelasan 1:
Research on intergroup relations shows that collective memories of past conflicts, injustices, or humiliations can fuel war. When societies or groups focus on these historical grievances, they may seek revenge or retribution, perpetuating cycles of violence.
Penjelasan 2:
Although God teaches peace and reconciliation, He also allows wars as a means of restoring justice. People must be punished for some wrongdoings and are therefore allowed to punish each other. Therefore, war is something that is ultimately willed by God.
Akses presentasi ini dengan scan kode QR di bawah ini:
Tip
Kontak saya:
Email: amelia.zein@psikologi.unair.ac.id atau Amelia.Zein@cais-research.de
Website: https://rameliaz.github.io/
Discord: @rameliaz