Penyusunan Tes Kognitif
2026-08-25
Proyek akhir: setiap kelompok akan menyusun satu set tes kognitif lengkap, dari spesifikasi item sampai booklet dan manual tes, disertai bukti validitas dan reliabilitas. Untuk itu, Anda diminta untuk membuat kelompok dengan anggota Maks. 5 orang.
Sebelum UTS (Pertemuan 1–7): membangun fondasi konseptualnya. Apa itu tes kognitif, bagaimana tahapan menyusunnya, apa itu taksonomi tujuan instruksional, dan apa perbedaan mendasar antara tes prestasi, tes potensi, dan tes inteligensi.
Setelah UTS (Pertemuan 9–15): mengerjakan proyeknya. Menulis item HOTS, menyusun spesifikasi dan blueprint, mengambil data uji coba, menganalisis butir, mengestimasi reliabilitas dan validitas, menyusun norma dan manual.
Sebuah SD ingin tahu apakah program literasi barunya berhasil: apakah kemampuan membaca siswa kelas 5 tahun ini lebih baik dibanding siswa yang masuk tahun lalu, setelah materi yang sama diajarkan?
Sebuah startup menyaring 500 pelamar magang pemrograman sebelum melihat satu baris kode pun yang mereka tulis, karena mereka ingin tahu siapa yang berpotensi paling cepat belajar coding.
Seorang neuropsikolog perlu menetapkan baseline kemampuan penalaran umum seorang pasien pascacedera kepala, sebelum bisa menilai apakah ada penurunan fungsi kognitif.
Ketiganya sama-sama butuh tes kognitif, karena mengukur performa maksimal seseorang, bukan kecenderungan atau preferensinya.
Tetapi ketiganya menanyakan pertanyaan yang secara konseptual berbeda: apa yang sudah dikuasai (situasi 1), apa yang berpotensi dikuasai (situasi 2), dan seberapa besar kapasitas umum seseorang (situasi 3).
Kalau jenis tesnya tertukar, misalnya memakai tes prestasi untuk meramalkan potensi, maka kesimpulannya bisa keliru total.
Ini bukan soal istilah semata
Ketiga situasi ini akan terus muncul sepanjang mata kuliah ini dalam bentuk tes prestasi (Pertemuan 4), tes potensi (Pertemuan 5), dan tes inteligensi (Pertemuan 6).
Dari mata kuliah Psikometri, Anda sudah belajar hal-hal berikut ini:
Penting diingat
Anda sudah belajar cara mengevaluasi apakah sebuah tes punya performa yang baik (validitas, reliabilitas). Mata kuliah ini membantu Anda cara membuatnya dari awal, tetapi khusus untuk domain kognitif.
Definisi klasik
Psikometri adalah cabang ilmu yang berkaitan dengan teori dan teknik pengukuran atribut pendidikan dan psikologis (Kline, 1986).
Kline (1986) merumuskan dua peran utama psikometri:
Validitas adalah properti tes
Standar internasional (AERA, APA, & NCME, 2014) menekankan bahwa kualitas tes tidak berhenti di alat ukurnya saja, validitas adalah properti dari interpretasi dan penggunaan skor, bukan cuma properti tesnya sendiri.
Implikasinya
Karena atributnya laten, tidak ada tes yang mengukur secara sempurna. Setiap tes adalah sampel perilaku yang kita generalisasikan ke konstruk yang lebih luas. Ini adalah alasan mengapa validitas dan reliabilitas selalu jadi isu sentral dalam pengukuran psikologi.
| Istilah | Definisi singkat |
|---|---|
| Tes | Pengukuran objektif dan standar terhadap sampel perilaku (Anastasi & Urbina, 1997) |
| Skala | Instrumen untuk mengidentifikasi konstrak/atribut psikologis, biasanya non-kognitif |
| Inventori | Alat untuk mengestimasi dan menilai tingkah laku, minat, atau preferensi |
| Angket/Kuesioner | Sekumpulan pertanyaan mengenai suatu topik, jawaban berdasarkan self-report partisipan |
Aturan yang kita gunakan sepanjang semester
Kalau ada jawaban benar-salah yang bisa dinilai objektif dari performa → ini adalah tes. Kalau yang diukur kecenderungan atau preferensi tanpa jawaban benar-salah → biasanya skala atau inventori.
(ability test → tes kognitif)
(personality test → non-kognitif)
Kenapa ini penting bagi mata kuliah ini
Seluruh mata kuliah ini berada di kolom kiri. Prinsip menulis item untuk performansi maksimal (ada kunci jawaban objektif) berbeda mendasar dari prinsip menulis item skala kepribadian — jangan tertukar nanti saat menulis item di Pertemuan 7.
Klasifikasikan tiga contoh berikut:
Kunci
Warisan yang tidak netral
Hasil tes Angkatan Darat US kemudian disalahgunakan oleh Carl Brigham (1923) untuk mendukung kebijakan imigrasi yang diskriminatif terhadap kelompok etnis tertentu. Tetapi, kesimpulan ini belakangan ditarik kembali oleh Brigham sendiri. Ini alasan mengapa Kode Etik Psikologi Indonesia yang akan kita bahas nanti membatasi ketat siapa yang boleh memakai tes psikologi.
Kenapa anekdot SAT ini relevan
Ini bukti nyata bahwa membedakan “tes prestasi” dari “tes bakat/potensi” bukan cuma latihan definisi di kelas. Bahkan tes berskala nasional pun bisa salah label selama puluhan tahun.
| Jenis | Mengukur | Sifat | Contoh pertanyaan riset |
|---|---|---|---|
| Tes inteligensi | Potensi umum menyelesaikan masalah, beradaptasi pada situasi baru | Relatif stabil lintas waktu dan konteks | “Seberapa besar kapasitas belajar umum siswa ini?” |
| Tes bakat/potensi (aptitude) | Kapasitas mempelajari keterampilan spesifik di masa depan | Prediktif — dinilai dari kemampuannya memprediksi performa mendatang | “Apakah kandidat ini berpotensi jadi programmer yang baik?” |
| Tes prestasi (achievement) | Apa yang sudah dipelajari/dikuasai saat ini | Retrospektif — dinilai dari kesesuaiannya dengan konten yang diajarkan | “Seberapa jauh siswa menguasai materi Bab 3?” |
Inteligensi
Bakat/Potensi
Prestasi
Catatan etis
Sebagian besar instrumen di atas adalah tes psikologi berlisensi komersial dan terbatas penggunaannya. Kita hanya membahas cara kerja dan prinsipnya dalam mata kuliah ini.
Contoh butir non-verbal orisinal (bukan dari tes manapun) — pola macam apa yang mengisi sel bertanda tanya?
| ● | ● ● | ● ● ● |
| ● ● | ● ● ● | ● ● ● ● |
| ● ● ● | ● ● ● ● | ? |
Kenapa ini contoh performansi maksimal
Ada aturan logis (jumlah titik = nomor baris + nomor kolom − 1), jawaban objektif benar (C), stimulus jelas, dan tidak butuh bahasa — ciri khas butir ability test non-verbal, cocok mengukur penalaran yang relatif bebas budaya.
Di Indonesia, tes psikologi tidak bebas dipakai siapa saja. Kode Etik Psikologi Indonesia (HIMPSI, 2010) membaginya menjadi 4 kategori, berdasarkan kualifikasi yang dibutuhkan untuk mengadministrasikan, menginterpretasikan, dan melaporkan hasilnya:
Relevansi untuk CPL mata kuliah ini
CPL mata kuliah ini secara eksplisit menyebut kewenangan atas tes kategori A dan B. Ini adalah batas etis tentang tes seperti apa yang boleh Anda susun dan gunakan sebagai calon sarjana psikologi.
Bayangkan sebuah abstrak jurnal menyebutkan:
“…partisipan mengerjakan asesmen kemampuan penalaran non-verbal berbatas waktu untuk mengontrol variasi kemampuan kognitif umum sebelum manipulasi eksperimen dilakukan…”
Latihan untuk Tugas 1
Di Minggu 6, Anda akan me-review 3 artikel jurnal yang menggunakan tes kognitif sebagai instrumen risetnya. Latihan identifikasi seperti ini adalah keterampilan inti yang dinilai di tugas tersebut.
Selanjutnya: tahap penyusunan tes kognitif
Kalau hari ini kita bicara apa itu tes kognitif, Pertemuan 2 akan membahas bagaimana menyusunnya. Kita mulai dari analisis kebutuhan, definisi konstruk, sampai blueprint awal.
Catatan
AERA, APA, & NCME. (2014). Standards for educational and psychological testing. American Educational Research Association.
Anastasi, A., & Urbina, S. (1997). Psychological testing (7th ed.). Prentice Hall.
Anastasi, A., & Urbina, S. (2016). Tes psikologi (Edisi ke-7). PT Indeks.
Azwar, S. (1987). Tes prestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Liberty.
Azwar, S. (2019). Konstruksi tes: Kemampuan kognitif. Pustaka Pelajar.
Binet, A., & Simon, T. (1905). Méthode nouvelle pour le diagnostic du niveau intellectuel des anormaux. L’Année Psychologique, 11, 191–244.
Brigham, C. C. (1923). A study of American intelligence. Princeton University Press.
DuBois, P. H. (1970). A history of psychological testing. Allyn & Bacon.
Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). (2010). Kode etik psikologi Indonesia.
Kline, P. (1986). A handbook of test construction: Introduction to psychometric design. Methuen.
Terman, L. M. (1916). The measurement of intelligence. Houghton Mifflin.
Yoakum, C. S., & Yerkes, R. M. (1920). Army mental tests. Henry Holt.