Penyusunan Tes Kognitif
2026-09-16
Yang sudah disinggung
CFIT dan Progressive Matrices dirancang mengurangi pengaruh bahasa dan latar belakang budaya terhadap skor. Desain ini tidak sepenuhnya menghilangkan pengaruh budaya, dan isu ini kita bahas mendalam hari ini.
Umumnya, ada tiga masalah yang sering tertukar: bias, muatan budaya, dan fairness.
Poin kunci hari ini
Tes bisa bermuatan budaya tinggi tanpa terbukti bias secara statistik, dan sebaliknya bisa bebas muatan budaya namun tetap bias. Kedua hal ini adalah dimensi yang berbeda.
Sebagian besar tes inteligensi dan kemampuan kognitif utama, ketika diuji ulang, tidak terbukti bias secara statistik dalam pengertian ini, tetapi ini tidak berarti tes tersebut otomatis bebas muatan budaya atau adil ketika dipakai perbandingan lintas kelompok.
Kaitan dengan Pertemuan 6
Ini adalah babak lanjutan dari sejarah penyalahgunaan tes inteligensi yang sudah dibahas di Pertemuan 6. Isu ini sangat berkaitan dengan keputusan yang diambil (pilihan sekolah) berdasarkan hasil tes.
DIF adalah indikator statistik, tetapi bukan otomatis bukti “bias”. Butir yang terdeteksi DIF tetap perlu ditelaah secara kualitatif untuk memastikan penyebabnya benar-benar konten yang tidak adil, bukan sekadar perbedaan kemampuan riil antar kelompok.
Kajian bias yang baik dimulai dari DIF di level butir, lanjut ke factor invariance, dan diakhiri dengan uji bias prediksi di level skor total.
Definisi fairness
“A fair test does not advantage or disadvantage some individuals because of characteristics irrelevant to the intended construct.” — Standards for Educational and Psychological Testing (AERA, APA, & NCME, 2014, hlm. 50)
Fairness mencakup lebih dari sekadar hasil uji statistik: desain tes, prosedur administrasi, dan interpretasi skor semuanya harus memberi kesempatan yang setara bagi peserta untuk menunjukkan kemampuannya.
Asumsi yang sering tidak terpenuhi
Saat membandingkan skor peserta dengan norma, kita mengasumsikan tingkat akulturasi peserta setara dengan sampel standardisasi. Ketika latar belakang pengalaman peserta berbeda jauh dari sampel norma, penggunaan norma itu untuk menilai atau memprediksi performanya bisa jadi tidak tepat.
| Pendekatan | Deskripsi singkat | Keterbatasan utama |
|---|---|---|
| Tes dimodifikasi/diadaptasi | Menghapus/menyederhanakan sebagian item atau instruksi, menghilangkan batas waktu | Melanggar prosedur standardisasi → menambah error yang tidak terkontrol |
| Penerjemah/interpreter | Item diterjemahkan langsung saat administrasi | Item tetap terikat budaya asal; standardisasi tetap dilanggar |
| Tes bahasa asli (native-language) | Tes yang memang dikembangkan dan distandardisasi dalam bahasa peserta | Norma sering berasal dari penutur monolingual di negara lain, tidak merepresentasikan peserta bilingual di negara tujuan |
| Tes non-verbal | Item dirancang meminimalkan tuntutan bahasa | Tetap bermuatan budaya lewat stimulus visual dan instruksi gestur |
Survei terhadap psikolog sekolah menemukan bahwa 88% memilih tes non-verbal, 40% menggunakan penerjemah, dan 20% menggunakan tes bahasa asli saat mengevaluasi individu yang beragam secara budaya dan bahasa.
Jadi, jauh lebih sedikit yang benar-benar memeriksa validitas skor secara langsung.
Temuan empirik
Kajian terhadap tiga tes non-verbal populer yang biasa dipakai mengidentifikasi anak berbakat menemukan selisih skor yang besar antara siswa English language learner (ELL) dan bukan ELL.
Kesimpulannya: tes non-verbal tidak otomatis “menyetarakan playing field” bagi anak dari latar belakang budaya berbeda.
Alih-alih berasumsi sebuah tes “bebas budaya” atau tidak, kerangka ini memetakan derajat muatan budaya dan tuntutan bahasa setiap subtes ke dalam matriks 2×2:
| Tuntutan bahasa rendah | Tuntutan bahasa sedang | Tuntutan bahasa tinggi | |
|---|---|---|---|
| Muatan budaya rendah | Subtes paling minim terpengaruh | ||
| Muatan budaya sedang | Subtes penalaran analogis | ||
| Muatan budaya tinggi | Subtes memori spasial | Subtes paling terpengaruh |
Mengelola bias dalam tes, bukan menghilangkannya sama sekali
Kerangka ini membantu praktisi memilih subtes yang tuntutan budaya dan bahasanya paling sesuai dengan latar belakang peserta.
Ini bukan cara menghilangkan pengaruh budaya sepenuhnya, karena menurut kerangka ini, semua tes pasti bermuatan budaya sampai taraf tertentu.
Tetapi, yang dapat diusahakan adalah mengelolanya secara sadar saat memilih instrumen dan menafsirkan skornya.
Tetapi, ini bukan berarti kita HARUS berhenti memakai tes-tes tersebut, melainkan alasan untuk membaca manual tes secara kritis dan melaporkan keterbatasannya secara jujur saat menafsirkan skor. Ini juga sejalan dengan Kode Etik Psikologi Indonesia yang sudah dibahas di Pertemuan 1 dan 6.
Kasus
Seorang psikolog menggunakan CFIT (dinormakan di Amerika Serikat dan Eropa) untuk menilai anak-anak di sebuah desa yang jarang terpapar tes psikologi terstandardisasi, termasuk format pilihan ganda dan pengerjaan dengan batas waktu. Psikolog itu menyimpulkan bahwa skor yang rendah menunjukkan kemampuan kognitif yang rendah.
Diskusikan dengan kelompok Anda:
Ada pertanyaan?
Paparan disusun dengan menggunakan dan Quarto dengan template dari UNAIR Theme.
American Educational Research Association, American Psychological Association, & National Council on Measurement in Education. (2014). Standards for educational and psychological testing. AERA.
Franklin, T. (2018). Best practices in multicultural assessment of cognition. In R. S. McCallum (Ed.), Handbook of nonverbal assessment (2nd ed., pp. 46–53). Springer.
Maller, S. J., & Pei, L.-K. (2018). Best practices in detecting bias in cognitive tests. In R. S. McCallum (Ed.), Handbook of nonverbal assessment (2nd ed., pp. 29–45). Springer.
McCallum, R. S. (2018). Context for nonverbal assessment of intelligence and related abilities. In R. S. McCallum (Ed.), Handbook of nonverbal assessment (2nd ed., pp. 12–28). Springer.
Ortiz, S. O., Piazza, N., Ochoa, S. H., & Dynda, A. M. (2018). Testing with culturally and linguistically diverse populations: New directions in fairness and validity. In D. P. Flanagan & E. M. McDonough (Eds.), Contemporary intellectual assessment: Theories, tests, and issues (4th ed., pp. 684–735). Guilford Press.