Isu Bias Budaya dalam Penyusunan Tes Kognitif

Penyusunan Tes Kognitif

2026-09-16

Agenda

  1. Bias, muatan budaya, dan fairness
  2. Sejarah litigasi tes di Amerika Serikat
  3. Mendeteksi bias secara statistik
  4. Empat pendekatan menguji individu lintas budaya
  5. Tes non-verbal: benarkah bebas budaya?
  6. Kerangka Culture-Language Test Classification
  7. Implikasi untuk konteks Indonesia
  8. Aktivitas: menganalisis kasus

Mengingat kembali

Leftover dari Pertemuan 6

Yang sudah disinggung

CFIT dan Progressive Matrices dirancang mengurangi pengaruh bahasa dan latar belakang budaya terhadap skor. Desain ini tidak sepenuhnya menghilangkan pengaruh budaya, dan isu ini kita bahas mendalam hari ini.

Umumnya, ada tiga masalah yang sering tertukar: bias, muatan budaya, dan fairness.

Bias, muatan budaya, dan fairness

3️⃣ istilah yang sering tertukar

  • Bias tes — istilah teknis dan statistik: kesalahan pengukuran yang sistematis terhadap keanggotaan kelompok budaya atau ras tertentu, yang dampaknya merugikan peserta tes dengan latar belakang tertentu, dibuktikan lewat suatu prosedur statistik.
  • Muatan budaya (cultural loading) — sejauh mana isi atau stimulus tes mengasumsikan perlunya pengetahuan dan pengalaman budaya tertentu untuk merespon tes tersebut.
  • Fairness — konsep yang lebih luas: apakah tes memberi peluang setara bagi semua peserta, terlepas dari latar belakangnya dan hasil uji bias secara statistik, untuk menunjukkan kemampuan optimalnya.

Kombinasi yang sering diabaikan

Poin kunci hari ini

Tes bisa bermuatan budaya tinggi tanpa terbukti bias secara statistik, dan sebaliknya bisa bebas muatan budaya namun tetap bias. Kedua hal ini adalah dimensi yang berbeda.

Sebagian besar tes inteligensi dan kemampuan kognitif utama, ketika diuji ulang, tidak terbukti bias secara statistik dalam pengertian ini, tetapi ini tidak berarti tes tersebut otomatis bebas muatan budaya atau adil ketika dipakai perbandingan lintas kelompok.

Sejarah litigasi tes di Amerika Serikat

Kasus yang mengubah praktik tes

  • Diana v. State Board of Education (1970) dan Larry P. v. Riles (1979) — gugatan terhadap penggunaan skor tes inteligensi (yang dinormakan pada kelompok mayoritas) untuk menempatkan anak-anak minoritas ke kelas pendidikan khusus.
  • Hasil litigasi ini mendorong pengembang tes membuat instrumen yang lebih memperhitungkan keragaman budaya, dan memengaruhi regulasi seperti Individuals with Disabilities Education Act.

Kaitan dengan Pertemuan 6

Ini adalah babak lanjutan dari sejarah penyalahgunaan tes inteligensi yang sudah dibahas di Pertemuan 6. Isu ini sangat berkaitan dengan keputusan yang diambil (pilihan sekolah) berdasarkan hasil tes.

Mendeteksi bias secara statistik

Differential Item Functioning (DIF)

  • DIF terjadi saat sebuah butir menunjukkan properti statistik berbeda antara dua kelompok, yaitu kelompok referensi (mis. mayoritas) dan kelompok focal (mis. minoritas), yang sudah disetarakan kemampuannya.
  • DIF uniform — butir menguntungkan satu kelompok secara konsisten di semua tingkat kemampuan.
  • DIF non-uniform — daya beda butir berbeda antar kelompok tergantung tingkat kemampuannya.

DIF adalah indikator statistik, tetapi bukan otomatis bukti “bias”. Butir yang terdeteksi DIF tetap perlu ditelaah secara kualitatif untuk memastikan penyebabnya benar-benar konten yang tidak adil, bukan sekadar perbedaan kemampuan riil antar kelompok.

DIF: Level item/butir vs. tes

  • Factor invariance — apakah struktur faktor tes sama pada kedua kelompok yang dibandingkan.
  • Bias prediksi — apakah tes memprediksi kriteria (misalnya prestasi belajar) dengan akurasi yang sama untuk semua kelompok.

Kajian bias yang baik dimulai dari DIF di level butir, lanjut ke factor invariance, dan diakhiri dengan uji bias prediksi di level skor total.

Fairness menurut Standards (2014)

Definisi fairness

“A fair test does not advantage or disadvantage some individuals because of characteristics irrelevant to the intended construct.”Standards for Educational and Psychological Testing (AERA, APA, & NCME, 2014, hlm. 50)

Fairness mencakup lebih dari sekadar hasil uji statistik: desain tes, prosedur administrasi, dan interpretasi skor semuanya harus memberi kesempatan yang setara bagi peserta untuk menunjukkan kemampuannya.

Asumsi keterbandingan

Asumsi yang sering tidak terpenuhi

Saat membandingkan skor peserta dengan norma, kita mengasumsikan tingkat akulturasi peserta setara dengan sampel standardisasi. Ketika latar belakang pengalaman peserta berbeda jauh dari sampel norma, penggunaan norma itu untuk menilai atau memprediksi performanya bisa jadi tidak tepat.

Empat pendekatan menguji individu lintas budaya

Tidak ada solusi tunggal yang sempurna

Pendekatan Deskripsi singkat Keterbatasan utama
Tes dimodifikasi/diadaptasi Menghapus/menyederhanakan sebagian item atau instruksi, menghilangkan batas waktu Melanggar prosedur standardisasi → menambah error yang tidak terkontrol
Penerjemah/interpreter Item diterjemahkan langsung saat administrasi Item tetap terikat budaya asal; standardisasi tetap dilanggar
Tes bahasa asli (native-language) Tes yang memang dikembangkan dan distandardisasi dalam bahasa peserta Norma sering berasal dari penutur monolingual di negara lain, tidak merepresentasikan peserta bilingual di negara tujuan
Tes non-verbal Item dirancang meminimalkan tuntutan bahasa Tetap bermuatan budaya lewat stimulus visual dan instruksi gestur

Yang paling sering dipilih praktisi

  • Survei terhadap psikolog sekolah menemukan bahwa 88% memilih tes non-verbal, 40% menggunakan penerjemah, dan 20% menggunakan tes bahasa asli saat mengevaluasi individu yang beragam secara budaya dan bahasa.

  • Jadi, jauh lebih sedikit yang benar-benar memeriksa validitas skor secara langsung.

Tes non-verbal: benarkah bebas budaya?

“Non-verbal” adalah istilah yang sedikit menyesatkan

  • Bahkan tes yang diklaim “100% non-verbal” tetap membutuhkan komunikasi.
    • Minimal untuk menjelaskan kapan mulai, kapan berhenti, dan apa yang dianggap jawaban benar, biasanya lewat gestur yang juga harus dipelajari peserta.
  • Stimulus visual (gambar benda, simbol) tetap bisa lebih familiar bagi satu budaya dibanding budaya lain.
  • Istilah yang lebih akurat: tes language-reduced, sehingga tes-tes ini tidak benar-benar bebas bahasa atau bebas budaya.

Bukti bahwa tes non-verbal tidak otomatis adil

Temuan empirik

Kajian terhadap tiga tes non-verbal populer yang biasa dipakai mengidentifikasi anak berbakat menemukan selisih skor yang besar antara siswa English language learner (ELL) dan bukan ELL.

Kesimpulannya: tes non-verbal tidak otomatis “menyetarakan playing field” bagi anak dari latar belakang budaya berbeda.

Kerangka Culture-Language Test Classification

Memetakan muatan budaya dan tuntutan bahasa

Alih-alih berasumsi sebuah tes “bebas budaya” atau tidak, kerangka ini memetakan derajat muatan budaya dan tuntutan bahasa setiap subtes ke dalam matriks 2×2:

Tuntutan bahasa rendah Tuntutan bahasa sedang Tuntutan bahasa tinggi
Muatan budaya rendah Subtes paling minim terpengaruh
Muatan budaya sedang Subtes penalaran analogis
Muatan budaya tinggi Subtes memori spasial Subtes paling terpengaruh

Manfaat praktisnya

Mengelola bias dalam tes, bukan menghilangkannya sama sekali

Kerangka ini membantu praktisi memilih subtes yang tuntutan budaya dan bahasanya paling sesuai dengan latar belakang peserta.

Ini bukan cara menghilangkan pengaruh budaya sepenuhnya, karena menurut kerangka ini, semua tes pasti bermuatan budaya sampai taraf tertentu.

Tetapi, yang dapat diusahakan adalah mengelolanya secara sadar saat memilih instrumen dan menafsirkan skornya.

Implikasi untuk konteks Indonesia

Beberapa pertanyaan reflektif

  • Sebagian besar tes kognitif yang dipakai di Indonesia (mis. Wechsler, CFIT, Progressive Matrices) awalnya dikembangkan dan dinormakan di luar Indonesia (Pertemuan 6).
  • Adaptasi tes lintas budaya idealnya mencakup uji ulang properti psikometri pada sampel lokal (Pertemuan 2), bukan sekadar menerjemahkan kata per kata.
  • Indonesia sendiri sangat beragam secara bahasa dan budaya antar-daerah; satu norma nasional tunggal berisiko menyembunyikan variasi ini.

Tetapi, ini bukan berarti kita HARUS berhenti memakai tes-tes tersebut, melainkan alasan untuk membaca manual tes secara kritis dan melaporkan keterbatasannya secara jujur saat menafsirkan skor. Ini juga sejalan dengan Kode Etik Psikologi Indonesia yang sudah dibahas di Pertemuan 1 dan 6.

Aktivitas: menganalisis kasus

Kasus untuk didiskusikan

Kasus

Seorang psikolog menggunakan CFIT (dinormakan di Amerika Serikat dan Eropa) untuk menilai anak-anak di sebuah desa yang jarang terpapar tes psikologi terstandardisasi, termasuk format pilihan ganda dan pengerjaan dengan batas waktu. Psikolog itu menyimpulkan bahwa skor yang rendah menunjukkan kemampuan kognitif yang rendah.

Diskusikan dengan kelompok Anda:

  • Apakah ini murni soal bias statistik, muatan budaya, atau fairness yang lebih luas?
  • Dari empat pendekatan yang sudah dibahas, mana yang paling mengurangi risiko salah tafsir pada kasus ini?

Ringkasan

  1. Bias tes (berkaitan dengan statistik), muatan budaya (berkaitan tentang isi tes), dan fairness (konsep validitas interpretasi yang lebih luas) adalah tiga hal yang berbeda.
  2. DIF adalah metode utama mendeteksi bias di level butir; factor invariance dan bias prediksi menguji bias di level skor total.
  3. Empat pendekatan menguji individu lintas budaya — modifikasi, penerjemah, bahasa asli, non-verbal — masing-masing punya keterbatasan; tidak ada yang sepenuhnya bebas masalah validitas.
  4. Tes non-verbal mengurangi, bukan menghilangkan, muatan bahasa dan budaya, sehingga lebih tepat disebut language-reduced.
  5. Kerangka seperti Culture-Language Test Classification membantu praktisi mengelola muatan budaya dengan lebih baik.
  6. Bagi praktisi di Indonesia, isu ini relevan langsung dengan tes-tes adaptasi luar negeri yang dipakai sehari-hari.

Terima kasih!😊

Ada pertanyaan?

Paparan disusun dengan menggunakan dan Quarto dengan template dari UNAIR Theme.

Rujukan

American Educational Research Association, American Psychological Association, & National Council on Measurement in Education. (2014). Standards for educational and psychological testing. AERA.

Franklin, T. (2018). Best practices in multicultural assessment of cognition. In R. S. McCallum (Ed.), Handbook of nonverbal assessment (2nd ed., pp. 46–53). Springer.

Maller, S. J., & Pei, L.-K. (2018). Best practices in detecting bias in cognitive tests. In R. S. McCallum (Ed.), Handbook of nonverbal assessment (2nd ed., pp. 29–45). Springer.

McCallum, R. S. (2018). Context for nonverbal assessment of intelligence and related abilities. In R. S. McCallum (Ed.), Handbook of nonverbal assessment (2nd ed., pp. 12–28). Springer.

Ortiz, S. O., Piazza, N., Ochoa, S. H., & Dynda, A. M. (2018). Testing with culturally and linguistically diverse populations: New directions in fairness and validity. In D. P. Flanagan & E. M. McDonough (Eds.), Contemporary intellectual assessment: Theories, tests, and issues (4th ed., pp. 684–735). Guilford Press.