Taksonomi dan Tujuan Instruksional

Penyusunan Tes Kognitif

2026-08-25

Outline

  • Dua rumusan tujuan pembelajaran
  • Definisi taksonomi dan tujuan instruksional
  • Taksonomi Bloom dan revisinya
  • 6️⃣ level proses kognitif
  • Dimensi pengetahuan
  • Tabel dua dimensi dan kaitannya dengan blueprint
  • Merumuskan tujuan instruksional
  • Kata kerja yang tidak dapat diamati
  • Aktivitas: mengklasifikasikan tujuan instruksional

2️⃣ rumusan tujuan pembelajaran

Bandingkan keduanya

  1. “Siswa memahami konsep pecahan.”
  2. “Siswa dapat menghitung hasil penjumlahan dua pecahan berpenyebut berbeda.”

Rumusan pertama tidak menyebutkan perilaku yang bisa diamati. “Memahami” bisa berarti apa saja, dan tidak ada cara langsung untuk menilai apakah tujuan itu tercapai. Rumusan kedua menyebutkan perilaku spesifik yang bisa diukur dengan satu butir soal.

Rumusan kedua bisa langsung diturunkan menjadi item tes. Rumusan pertama tidak bisa, sebelum diterjemahkan dulu ke bentuk yang lebih spesifik.

Definisi

Taksonomi dan tujuan instruksional

Taksonomi

Sistem klasifikasi yang menyusun kategori secara berjenjang, dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks.

Tujuan instruksional

Pernyataan tentang apa yang diharapkan mampu dilakukan peserta didik setelah proses pembelajaran, dirumuskan dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dan diukur.

Kedua konsep ini terhubung: taksonomi menyediakan kosakata dan struktur untuk merumuskan tujuan instruksional pada level kompleksitas kognitif yang tepat.

Taksonomi Bloom dan revisinya

Taksonomi Bloom (1956)

  • Benjamin Bloom dan koleganya menyusun Taxonomy of Educational Objectives: Handbook I, Cognitive Domain (Bloom dkk., 1956).
  • Enam kategori, berupa kata benda, disusun berjenjang: Pengetahuan, Pemahaman, Aplikasi, Analisis, Sintesis, Evaluasi.
  • Setiap level dianggap mencakup dan membutuhkan level di bawahnya.

Revisi tahun 2001

Dua perubahan utama

  1. Kategori diubah dari kata benda menjadi kata kerja (misalnya “Pengetahuan” menjadi “Mengingat”) untuk menekankan bahwa taksonomi ini menggambarkan proses kognitif, bukan sekadar isi materi.
  2. Urutan dua level tertinggi ditukar: Sintesis (level 5 di taksonomi lama) menjadi Mencipta (level 6, tertinggi). Alasannya, mencipta sesuatu yang baru membutuhkan evaluasi sebagai salah satu prosesnya.
  3. Ditambahkan dimensi kedua: dimensi pengetahuan, terpisah dari dimensi proses kognitif.

6️⃣ level proses kognitif

Level yang lebih dasar

Level Definisi Contoh kata kerja
Mengingat Mengenali atau memanggil kembali informasi mengidentifikasi, menyebutkan, mendaftar
Memahami Menjelaskan makna dari informasi menjelaskan, membandingkan, meringkas
Menerapkan Menggunakan prosedur pada situasi baru menghitung, menerapkan, mendemonstrasikan

Level yang lebih kompleks

Level Definisi Contoh kata kerja
Menganalisis Memecah informasi menjadi bagian dan melihat hubungan antar-bagian membedakan, mengorganisasikan, menghubungkan
Mengevaluasi Membuat penilaian berdasarkan kriteria menilai, membandingkan, memprediksi kualitas
Mencipta Menyusun elemen menjadi sesuatu yang baru merancang, merumuskan, menghasilkan

Tingkatan ini lebih dari sekadar label kesulitan

  • Level yang lebih tinggi tidak selalu berarti soal yang “lebih sulit” secara umum, tetapi menuntut proses kognitif yang berbeda.
  • Item mengingat bisa saja sulit (fakta yang jarang diketahui), dan item menganalisis bisa saja mudah (perbandingan yang sederhana).
  • Yang membedakan level adalah jenis proses mental yang dituntut, bukan tingkat kesulitannya.

Dimensi pengetahuan

Empat jenis pengetahuan

  • Faktual — fakta spesifik, terminologi, detail
  • Konseptual — kategori, prinsip, teori, model
  • Prosedural — langkah-langkah, metode, teknik, kriteria kapan menggunakan suatu prosedur
  • Metakognitif — kesadaran dan pengetahuan tentang proses berpikir sendiri

Tabel dua dimensi

Taksonomi revisi menyilangkan dimensi proses kognitif dengan dimensi pengetahuan, menghasilkan tabel 6×4. Setiap sel adalah kombinasi yang mungkin diukur; tanda centang berikut menandai satu contoh kombinasi untuk tiap jenis pengetahuan:

Mengingat Memahami Menerapkan Menganalisis Mengevaluasi Mencipta
Faktual
Konseptual
Prosedural
Metakognitif

Kaitan dengan blueprint

Pertemuan 2 menyebutkan bahwa blueprint menyilangkan domain isi dengan level kognitif. Tabel ini adalah alat yang dipakai untuk menentukan sel mana yang relevan diisi, dan berapa proporsi itemnya, sesuai konstruk yang diukur.

Merumuskan tujuan instruksional

Komponen ABCD

Mager (1962) mengusulkan rumusan tujuan instruksional dengan tiga komponen inti: Behavior, Condition, Degree. Komponen Audience baru ditambahkan belakangan oleh penulis desain instruksional lain (bukan oleh Mager sendiri), sehingga membentuk kerangka ABCD yang lebih dikenal luas saat ini:

Komponen Pertanyaan Contoh
Audience Siapa yang belajar? Mahasiswa semester 5
Behavior Perilaku apa yang diharapkan, dalam kata kerja yang bisa diamati? dapat menghitung
Condition Dalam kondisi/dengan alat bantu apa? tanpa kalkulator, dalam waktu 2 menit
Degree Seberapa baik/berapa kriteria keberhasilannya? dengan tingkat ketepatan minimal 80%

Contoh gabungan

“Mahasiswa semester 5 (A) dapat menghitung hasil penjumlahan dua pecahan berpenyebut berbeda (B) tanpa kalkulator (C) dengan tingkat ketepatan minimal 80% (D).”

Kata kerja yang tidak dapat diamati

Perhatikan kata kerja dalam rumusan tujuan

  • Kata kerja seperti “memahami”, “mengetahui”, “menyadari”, atau “menghargai” menggambarkan keadaan internal, bukan perilaku yang dapat diamati secara langsung.
  • Ini berlaku juga untuk nama level taksonomi itu sendiri. “Memahami” adalah nama kategori, bukan kata kerja operasional yang siap dipakai dalam rumusan tujuan.
  • Untuk merumuskan tujuan yang bisa diukur, kata kerja dalam kategori “Memahami” perlu diterjemahkan menjadi kata kerja operasional seperti “menjelaskan”, “membandingkan”, atau “menyimpulkan”.

Relevansi untuk penyusunan tes

Tujuan instruksional yang tidak memakai kata kerja operasional sulit diterjemahkan langsung menjadi item tes. Ini alasan mengapa daftar kata kerja pada tabel taksonomi (bukan nama levelnya) menjadi acuan praktis saat menulis tujuan maupun butir soal.

Aktivitas: mengklasifikasikan tujuan instruksional

Klasifikasikan masing-masing rumusan berikut ke salah satu dari enam level proses kognitif:

  1. “Mahasiswa dapat menyebutkan tiga jenis tes kognitif.”
  2. “Mahasiswa dapat membandingkan tes prestasi dan tes potensi berdasarkan orientasi waktunya.”
  3. “Mahasiswa dapat menyusun blueprint tes untuk konstrak yang ditentukan.”

Kunci

  1. Mengingat — memanggil kembali informasi. (2) Menganalisis — meskipun “membandingkan” juga muncul sebagai contoh kata kerja di tabel Memahami dan Mengevaluasi, proses yang dituntut di sini (membedah dua konsep berdasarkan kriteria tertentu) lebih tepat masuk Menganalisis. Kata kerja yang sama bisa berada di level berbeda, tergantung proses kognitif yang sebenarnya dituntut — bukan sekadar kata kerjanya. (3) Mencipta — menyusun elemen (proporsi, item, format) menjadi produk baru.

Ringkasan

  1. Taksonomi adalah sistem klasifikasi berjenjang; tujuan instruksional adalah pernyataan perilaku terukur yang menjadi target pembelajaran.
  2. Taksonomi Bloom (1956) memakai enam kategori berupa kata benda; revisi Anderson dan Krathwohl (2001) mengubahnya menjadi kata kerja dan menukar urutan dua level tertinggi.
  3. Revisi ini menambahkan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, metakognitif), membentuk tabel dua dimensi bersama proses kognitif.
  4. Tabel dua dimensi ini adalah alat yang dipakai saat menyusun blueprint di Pertemuan 2 dan proyek Anda.
  5. Tujuan instruksional yang terukur dirumuskan dengan kata kerja operasional (model ABCD, berakar dari Behavior-Condition-Degree Mager, 1962), bukan kata kerja yang menggambarkan keadaan internal peserta didik.

Untuk Pertemuan 4

Selanjutnya: tes prestasi

Pertemuan 4 menerapkan taksonomi ini secara langsung pada tes prestasi, yaitu jenis tes kognitif yang paling erat kaitannya dengan tujuan instruksional dan materi pembelajaran tertentu.

Ada pertanyaan❓

Catatan

Rujukan

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives. Longman.

Bloom, B. S., Engelhart, M. D., Furst, E. J., Hill, W. H., & Krathwohl, D. R. (1956). Taxonomy of educational objectives: The classification of educational goals. Handbook I, Cognitive domain. David McKay Company.

Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom’s taxonomy: An overview. Theory Into Practice, 41(4), 212–218. https://www.jstor.org/stable/1477405?seq=1

Mager, R. F. (1962). Preparing instructional objectives. Fearon Publishers.