Penyusunan Tes Kognitif
2026-09-16
Keduanya sama-sama tes kognitif yang mengukur performansi maksimal.
Bedanya: (1) mengukur hasil belajar yang sudah terjadi, (2) mengukur kapasitas untuk pembelajaran yang belum terjadi. Perbedaan ini sudah diperkenalkan di Pertemuan 1 dan hari ini kita bahas lebih dalam untuk poin (2).
Tes potensi (aptitude test) adalah alat ukur yang dirancang untuk menaksir kapasitas seseorang mempelajari suatu keterampilan atau bidang tertentu di masa depan (Anastasi & Urbina, 1997).
| Tes Potensi | Tes Prestasi | |
|---|---|---|
| Mengukur | Kapasitas belajar di masa depan | Penguasaan materi yang sudah diajarkan |
| Orientasi waktu | Prediktif | Retrospektif |
| Ketergantungan pada kurikulum tertentu | Rendah | Tinggi |
| Contoh penggunaan | Seleksi masuk, penempatan kerja | Ujian sekolah, sertifikasi |
| Kriteria evaluasi kualitas tes | Validitas prediktif | Validitas isi |
Tes potensi tetap membutuhkan sejumlah pengetahuan dasar sebagai media pengukuran, misalnya soal kuantitatif tetap memakai operasi hitung yang sudah dipelajari.
Oleh karena itu, beberapa ahli menyebutkan bahwa korelasi yang kuat antara skor tes prestasi dengan tes potensi sebagai kasus jangle fallacy.
Jadi, perbedaannya mungkin terletak pada tujuan penggunaan skornya: memprediksi performa mendatang, bukan mengevaluasi hasil belajar yang telah lampau.
| Subtes | Komponen | Contoh indikator |
|---|---|---|
| Verbal | Padanan kata, lawan kata, analogi kata | Mengidentifikasi pasangan kata yang memiliki hubungan makna yang sama |
| Kuantitatif | Deret angka, aritmetika, konsep aljabar | Mengidentifikasi prinsip yang mendasari suatu deret angka |
| Penalaran | Berpikir logis, berpikir analitik | Menarik kesimpulan dari dua premis |
Catatan
Prinsip yang sama berlaku baik pada TPA maupun tes bakat khusus: konstruk yang diukur harus didefinisikan terlebih dahulu (Pertemuan 2), lalu dijabarkan ke dalam blueprint yang menentukan proporsi tiap komponen.
Format ini biasa dipakai pada subtes kuantitatif:
4, 7, 10, 13, …
Kunci
Jawaban B (16) — pola bertambah 3 setiap sukunya. Contoh ini dibuat khusus untuk ilustrasi, tidak diambil dari tes manapun, mengikuti prinsip yang sama seperti pada Pertemuan 1.
Untuk tiap contoh butir berikut, tentukan termasuk subtes Verbal, Kuantitatif, atau Penalaran:
Kunci
Selanjutnya: tes inteligensi
Pertemuan 6 membahas tes inteligensi, yang merupakan jenis tes kognitif ketiga dari Pertemuan 1, termasuk sejarah perkembangannya dan beberapa instrumen yang banyak dipakai di Indonesia.
Ada pertanyaan?
Paparan disusun dengan menggunakan dan Quarto dengan template dari UNAIR Theme.
Anastasi, A., & Urbina, S. (1997). Psychological testing (7th ed.). Prentice Hall.
Azwar, S. (2019). Konstruksi tes: Kemampuan kognitif. Pustaka Pelajar.
Bennett, G. K., Seashore, H. G., & Wesman, A. G. (1947). Differential aptitude tests. Psychological Corporation.