Tes Potensi

Penyusunan Tes Kognitif

2026-08-25

Outline

  • Definisi tes potensi
  • Tes potensi vs. tes prestasi
  • Dua kategori tes potensi
  • Tes Potensi Akademik (TPA)
  • Tes bakat khusus
  • Format butir yang umum dipakai
  • Aktivitas: mengklasifikasikan butir TPA

Perbedaan Tes Prestasi dengan Tes Potensi

Bandingkan

  1. Ujian akhir semester mata kuliah Statistika — mengukur seberapa jauh mahasiswa menguasai materi yang sudah diajarkan.
  2. Tes Potensi Akademik (TPA) untuk seleksi masuk program magister — mengukur seberapa besar kemungkinan calon mahasiswa berhasil menempuh studi lanjut, sebelum studi itu dimulai.

Keduanya sama-sama tes kognitif yang mengukur performansi maksimal. Bedanya: (1) mengukur hasil belajar yang sudah terjadi, (2) mengukur kapasitas untuk pembelajaran yang belum terjadi. Perbedaan ini sudah diperkenalkan di Pertemuan 1 — hari ini kita bahas lebih dalam untuk poin (2).

Definisi tes potensi

Definisi

Definisi

Tes potensi (aptitude test) adalah alat ukur yang dirancang untuk menaksir kapasitas seseorang mempelajari suatu keterampilan atau bidang tertentu di masa depan (Anastasi & Urbina, 1997).

  • Tes potensi tidak mengasumsikan peserta sudah pernah mempelajari materi yang diujikan secara formal.
  • Skor tes potensi diinterpretasikan sebagai prediksi terhadap performa yang terjadi di masa depan.

Tes potensi vs. tes prestasi

Perbandingan

Tes Potensi Tes Prestasi
Mengukur Kapasitas belajar di masa depan Penguasaan materi yang sudah diajarkan
Orientasi waktu Prediktif Retrospektif
Ketergantungan pada kurikulum tertentu Rendah Tinggi
Contoh penggunaan Seleksi masuk, penempatan kerja Ujian sekolah, sertifikasi
Kriteria evaluasi kualitas tes Validitas prediktif Validitas isi

Batas antara keduanya tidak selalu jelas

  • Tes potensi tetap membutuhkan sejumlah pengetahuan dasar sebagai media pengukuran, misalnya soal kuantitatif tetap memakai operasi hitung yang sudah dipelajari.
  • Oleh karena itu, beberapa ahli menyebutkan bahwa korelasi yang kuat antara skor tes prestasi dengan tes potensi sebagai kasus jangle fallacy. Nama tesnya/konstruknya berbeda, tetapi sebenarnya mendeskripsikan fenomena psikologis yang sama.
  • Jadi, perbedaannya mungkin terletak pada tujuan penggunaan skornya: memprediksi performa mendatang, bukan mengevaluasi hasil belajar yang telah lampau.

Dua kategori tes potensi

Tes potensi akademik dan tes bakat khusus

  1. Tes Potensi Akademik (TPA) — mengukur kapasitas kognitif umum yang relevan untuk keberhasilan studi, tidak terikat pada satu bidang keahlian tertentu.
  2. Tes bakat khusus (specific aptitude) — mengukur kapasitas pada satu domain kemampuan tertentu, misalnya kemampuan mekanik, kemampuan klerikal, atau kemampuan spasial.

Tes Potensi Akademik (TPA)

Asal-usul dan struktur umum

  • Konstruksi TPA di Indonesia mengikuti sebagian konsep pengembangan Graduate Record Examinations (GRE) di Amerika Serikat, yang membagi kemampuan menjadi penalaran verbal, penalaran kuantitatif, dan kemampuan analitis (bentuk soal komponen analitis ini berbeda antar era — pilihan ganda pada dekade 1980-an saat TPA Indonesia mulai dikembangkan, esai tertulis pada versi GRE saat ini).
  • TPA di Indonesia pada umumnya terdiri atas tiga subtes: Verbal, Kuantitatif, dan Penalaran (Azwar, 2019).

Contoh kisi-kisi TPA

Subtes Komponen Contoh indikator
Verbal Padanan kata, lawan kata, analogi kata Mengidentifikasi pasangan kata yang memiliki hubungan makna yang sama
Kuantitatif Deret angka, aritmetika, konsep aljabar Mengidentifikasi prinsip yang mendasari suatu deret angka
Penalaran Berpikir logis, berpikir analitik Menarik kesimpulan dari dua premis

Tes bakat khusus

Mengukur satu domain kemampuan

  • Tes bakat khusus dipakai ketika keputusan yang diambil terkait pada satu bidang tertentu, misalnya penjurusan sekolah kejuruan atau seleksi untuk posisi kerja teknis.
  • Contoh domain yang umum diukur: kemampuan verbal, numerik, penalaran abstrak, kecepatan klerikal, penalaran mekanik, dan hubungan ruang (space relations).
  • Baterai tes bakat yang mengukur beberapa domain sekaligus disebut multiple aptitude battery.
    • Contohnya: Differential Aptitude Tests (Bennett, Seashore, & Wesman, 1947) dan General Aptitude Test Battery, yang sudah disebutkan di Pertemuan 1.

Kenapa relevan untuk penyusunan tes

Catatan

Prinsip yang sama berlaku baik pada TPA maupun tes bakat khusus: konstrak yang diukur harus didefinisikan terlebih dahulu (Pertemuan 2), lalu dijabarkan ke dalam blueprint yang menentukan proporsi tiap komponen.

Format butir yang umum dipakai

Beberapa contoh format

  • Analogi verbal“Sapi berhubungan dengan rumput, sebagaimana X berhubungan dengan Y”.
  • Sinonim/antonim — memilih kata dengan makna yang sama atau berlawanan.
  • Deret angka — melengkapi pola pada suatu deret bilangan.
  • Penalaran logis — menarik kesimpulan dari premis yang diberikan.
  • Penalaran non-verbal figural — melengkapi pola pada rangkaian gambar atau bentuk.

Contoh format deret angka

Format ini biasa dipakai pada subtes kuantitatif:

4, 7, 10, 13, …

  1. 15 B) 16 C) 17 D) 18

Kunci

Jawaban B (16) — pola bertambah 3 setiap sukunya. Contoh ini dibuat khusus untuk ilustrasi, bukan diambil dari tes manapun, mengikuti prinsip yang sama seperti pada Pertemuan 1.

Aktivitas: mengklasifikasikan butir TPA

Untuk tiap contoh butir berikut, tentukan termasuk subtes Verbal, Kuantitatif, atau Penalaran:

  1. “Pilih kata yang paling berlawanan makna dengan kata ‘optimis’.”
  2. “Jika semua A adalah B, dan sebagian B adalah C, apakah semua A pasti C?”
  3. “Lengkapi deret berikut: 2, 6, 18, 54, …”

Kunci

  1. Verbal. (2) Penalaran. (3) Kuantitatif.

Ringkasan

  1. Tes potensi mengukur kapasitas belajar di masa depan, berbeda dari tes prestasi yang mengukur penguasaan materi yang sudah diajarkan.
  2. Ada dua kategori tes potensi: Tes Potensi Akademik (TPA) untuk kapasitas kognitif umum, dan tes bakat khusus untuk satu domain kemampuan tertentu.
  3. TPA di Indonesia pada umumnya terdiri atas tiga subtes: Verbal, Kuantitatif, dan Penalaran, mengikuti sebagian konsep GRE.
  4. Tes bakat khusus dipakai untuk keputusan yang terkait pada satu bidang tertentu, dan bisa disusun sebagai baterai yang mengukur beberapa domain sekaligus.
  5. Prinsip penyusunan tes dari Pertemuan 2 tetap berlaku: definisi konstrak dan blueprint mendahului penulisan item.

Untuk Pertemuan 6

Selanjutnya: tes inteligensi

Pertemuan 6 membahas tes inteligensi, yang merupakan jenis tes kognitif ketiga dari Pertemuan 1, termasuk sejarah perkembangannya dan beberapa instrumen yang banyak dipakai di Indonesia.

Ada pertanyaan❓

Catatan

Rujukan

Anastasi, A., & Urbina, S. (1997). Psychological testing (7th ed.). Prentice Hall.

Azwar, S. (2019). Konstruksi tes: Kemampuan kognitif. Pustaka Pelajar.

Bennett, G. K., Seashore, H. G., & Wesman, A. G. (1947). Differential aptitude tests. Psychological Corporation.