Penyusunan Tes Kognitif
2026-09-16
Pertemuan 3 membahas taksonomi Bloom revisi (Anderson & Krathwohl, 2001) dengan enam level proses kognitif, berjenjang dari yang paling sederhana:
Mengingat → Memahami → Menerapkan → Menganalisis → Mengevaluasi → Mencipta
LOTS vs. HOTS
Tiga level pertama biasa disebut lower order thinking skills (LOTS); tiga level terakhir disebut higher order thinking skills (HOTS). Hari ini kita fokus pada level Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta.
Item yang hanya mengukur level Mengingat menuntut peserta memanggil kembali informasi, tanpa perlu menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami, menafsirkan, atau mampu menerapkan informasi tersebut untuk memecahkan persoalan yang belum pernah mereka jumpai persis dalam konteks ketika informasi tsb. diajarkan.
Semakin tinggi level kognitif yang diukur, semakin dituntut kemampuan berpikir kompleks dari peserta, jadi lebih dari sekadar semakin tinggi tingkat kesulitan soalnya.
Definisi
HOTS mencakup proses berpikir yang melampaui mengingat dan memahami: menganalisis, mengevaluasi (melakukan judgement), dan mencipta, termasuk di dalamnya berpikir kritis, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah.
Yang sering keliru
Stimulus yang panjang dan tampak rumit tidak otomatis membuat sebuah item mengukur HOTS. Kalau jawabannya bisa ditemukan langsung dengan mencocokkan kalimat pada stimulus, tanpa perlu memproses informasi itu, proses kognitif yang sebenarnya dituntut tetap Mengingat.
Stimulus
“Sebuah laporan menemukan bahwa penjualan es krim dan jumlah kasus tenggelam di kolam renang umum sama-sama meningkat sepanjang tahun. Penulis laporan menyimpulkan bahwa membeli es krim meningkatkan risiko tenggelam.”
“Kelemahan utama pada kesimpulan tersebut adalah…”
B — korelasi antara dua variabel tidak membuktikan salah satu menyebabkan yang lain; keduanya bisa dijelaskan oleh variabel ketiga (musim panas). Menjawab ini menuntut analisis hubungan sebab-akibat.
Stimulus
“Dua rancangan studi berikut sama-sama menguji apakah pelatihan X meningkatkan skor tes Y.”
Rancangan 1: Mengukur skor Y pada kelompok yang sama, sebelum dan sesudah pelatihan, tanpa kelompok pembanding.
Rancangan 2: Mengukur skor Y pada kelompok yang mengikuti pelatihan dan kelompok yang tidak, keduanya diukur pada waktu yang sama.
“Berdasarkan kriteria kemampuan mengontrol penjelasan alternatif, rancangan manakah yang lebih kuat?”
Kunci
B — rancangan dengan kelompok pembanding lebih mampu mengontrol penjelasan alternatif seperti efek waktu atau kematangan, yang tidak bisa disingkirkan pada Rancangan 1.
Taksonomi asli Bloom dkk. (1956) menyebut level ini Sintesis; taksonomi revisi menggabungkannya ke dalam Mencipta (Pertemuan 3). Ketiga sub-kategori aslinya tetap berguna sebagai panduan menulis item:
Item pilihan ganda kurang cocok untuk mengukur Mencipta secara murni, karena level ini menekankan kemampuan peserta menghasilkan ide orisinal. Dalam praktiknya, level ini lebih sering diukur lewat esai atau project-based assessment dibanding tes obyektif.
Untuk tes yang harus tetap terstandardisasi dan objektif skornya (seperti tes potensi), pendekatan yang lebih realistis adalah meminta peserta mengenali hasil sintesis terbaik dari beberapa opsi yang disediakan.
Relevansi untuk proyek akhir
Tes kognitif yang Anda susun untuk proyek akhir (Pertemuan 14) akan lebih kuat validitas isinya jika sebagian butirnya secara sengaja dirancang di level HOTS, sesuai proporsi pada blueprint Anda (Pertemuan 2 dan 3).
Prinsip menulis stem dan options dari Pertemuan 7 — kalimat positif, satu ide inti, panjang pilihan yang setara juga tetap berlaku penuh untuk item HOTS. Level kognitif yang lebih tinggi bukan alasan untuk mengabaikan prinsip dasar ini.
Item untuk ditelaah
“Bacalah paragraf berikut: ‘Bias budaya dalam tes kognitif terjadi ketika sebuah tes menghasilkan kesalahan pengukuran yang sistematis terhadap kelompok budaya tertentu.’ Berdasarkan paragraf di atas, definisi dari bias budaya adalah…”
Diskusikan dengan rekan Anda: apakah item ini benar-benar mengukur level Menganalisis?
Kunci
Bukan — jawaban (B) bisa ditemukan dengan mencocokkan kalimat pada stimulus secara langsung, tanpa perlu memproses atau menghubungkan informasi apa pun. Ini contoh HOTS semu: stimulus terlihat seperti seolah-olah membutuhkan keterampilan analisis, tetapi proses kognitif yang dituntut tetap Mengingat.
Selanjutnya: praktik terstruktur
Pertemuan 10 memulai rangkaian praktik menyusun tes kognitif dengan bimbingan terstruktur, dimulai dari spesifikasi item dan penyusunan blueprint untuk proyek akhir kelompok Anda.
Ada pertanyaan?
Paparan disusun dengan menggunakan dan Quarto dengan template dari UNAIR Theme.
Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives. Longman.
Bloom, B. S., Engelhart, M. D., Furst, E. J., Hill, W. H., & Krathwohl, D. R. (1956). Taxonomy of educational objectives: The classification of educational goals. Handbook I, Cognitive domain. David McKay Company.
Brookhart, S. M. (2010). How to assess higher-order thinking skills in your classroom. ASCD.
Haladyna, T. M., Downing, S. M., & Rodriguez, M. C. (2002). A review of multiple-choice item-writing guidelines for classroom assessment. Applied Measurement in Education, 15(3), 309–334.
Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom’s taxonomy: An overview. Theory Into Practice, 41(4), 212–218. https://www.jstor.org/stable/1477405?seq=1