Menulis item untuk mengukur Higher Order Thinking Skill (HOTS)

Penyusunan Tes Kognitif

2026-09-16

Agenda

  1. Dari LOTS ke HOTS
  2. Definisi dan ciri item HOTS
  3. Menulis item level Menganalisis
  4. Menulis item level Mengevaluasi
  5. Menulis item level Mencipta
  6. HOTS pada tes prestasi vs. tes potensi
  7. Kesalahan umum menulis item HOTS
  8. Aktivitas: menelaah butir HOTS

LOTS vs. HOTS

Ingat materi Pertemuan 3: enam level proses kognitif

Pertemuan 3 membahas taksonomi Bloom revisi (Anderson & Krathwohl, 2001) dengan enam level proses kognitif, berjenjang dari yang paling sederhana:

Mengingat → Memahami → Menerapkan → Menganalisis → Mengevaluasi → Mencipta

LOTS vs. HOTS

Tiga level pertama biasa disebut lower order thinking skills (LOTS); tiga level terakhir disebut higher order thinking skills (HOTS). Hari ini kita fokus pada level Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta.

Mengapa item level LOTS saja tidak cukup

Item yang hanya mengukur level Mengingat menuntut peserta memanggil kembali informasi, tanpa perlu menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami, menafsirkan, atau mampu menerapkan informasi tersebut untuk memecahkan persoalan yang belum pernah mereka jumpai persis dalam konteks ketika informasi tsb. diajarkan.

Semakin tinggi level kognitif yang diukur, semakin dituntut kemampuan berpikir kompleks dari peserta, jadi lebih dari sekadar semakin tinggi tingkat kesulitan soalnya.

Definisi dan ciri item HOTS

Apa itu HOTS

Definisi

HOTS mencakup proses berpikir yang melampaui mengingat dan memahami: menganalisis, mengevaluasi (melakukan judgement), dan mencipta, termasuk di dalamnya berpikir kritis, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah.

Dua ciri item HOTS yang baik

  1. Ada pengantar soal (stimulus) — teks, grafik, tabel, kasus — sebagai bahan berpikir bagi peserta.
  2. Konteks atau masalah yang belum pernah dijumpai peserta persis dalam bentuk yang sama, sehingga item tidak bisa dijawab hanya dengan mengandalkan ingatan.

Yang sering keliru

Stimulus yang panjang dan tampak rumit tidak otomatis membuat sebuah item mengukur HOTS. Kalau jawabannya bisa ditemukan langsung dengan mencocokkan kalimat pada stimulus, tanpa perlu memproses informasi itu, proses kognitif yang sebenarnya dituntut tetap Mengingat.

Tiga jenis proses analisis

  • Analisis unsur — mengenali asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit, membedakan fakta dari opini, membedakan kesimpulan dari fakta yang mendukungnya.
  • Analisis hubungan — mengidentifikasi hubungan antar-ide, mengenali hubungan sebab-akibat, membedakan argumen yang relevan dari yang tidak relevan.
  • Analisis prinsip pengorganisasian — mengenali bentuk, pola, atau struktur yang implisit dalam sebuah teks atau komunikasi.

Contoh item: analisis hubungan

Stimulus

“Sebuah laporan menemukan bahwa penjualan es krim dan jumlah kasus tenggelam di kolam renang umum sama-sama meningkat sepanjang tahun. Penulis laporan menyimpulkan bahwa membeli es krim meningkatkan risiko tenggelam.”

“Kelemahan utama pada kesimpulan tersebut adalah…”

  1. Data penjualan es krim kurang akurat B) Kedua hal itu kemungkinan sama-sama dipengaruhi musim panas C) Kasus tenggelam terlalu sedikit untuk dianalisis D) Kolam renang umum tidak representatif

B — korelasi antara dua variabel tidak membuktikan salah satu menyebabkan yang lain; keduanya bisa dijelaskan oleh variabel ketiga (musim panas). Menjawab ini menuntut analisis hubungan sebab-akibat.

Dua jenis kriteria penilaian

  • Kriteria internal — akurasi, konsistensi, dan urutan logis dari karya atau argumen itu sendiri.
  • Kriteria eksternal — standar di luar karya itu, misalnya efisiensi, kesesuaian dengan tujuan tertentu, atau perbandingan dengan alternatif lain.

Contoh item: mengevaluasi

Stimulus

“Dua rancangan studi berikut sama-sama menguji apakah pelatihan X meningkatkan skor tes Y.”

Rancangan 1: Mengukur skor Y pada kelompok yang sama, sebelum dan sesudah pelatihan, tanpa kelompok pembanding.

Rancangan 2: Mengukur skor Y pada kelompok yang mengikuti pelatihan dan kelompok yang tidak, keduanya diukur pada waktu yang sama.

“Berdasarkan kriteria kemampuan mengontrol penjelasan alternatif, rancangan manakah yang lebih kuat?”

  1. Rancangan 1 B) Rancangan 2 C) Sama kuat D) Tidak bisa ditentukan

Kunci

B — rancangan dengan kelompok pembanding lebih mampu mengontrol penjelasan alternatif seperti efek waktu atau kematangan, yang tidak bisa disingkirkan pada Rancangan 1.

Tiga bentuk produk yang dituntut

Taksonomi asli Bloom dkk. (1956) menyebut level ini Sintesis; taksonomi revisi menggabungkannya ke dalam Mencipta (Pertemuan 3). Ketiga sub-kategori aslinya tetap berguna sebagai panduan menulis item:

  • Menghasilkan komunikasi unik — cerita pendek, esai, komposisi.
  • Menyusun rencana atau rancangan — proposal eksperimen, rancangan intervensi.
  • Menurunkan hubungan abstrak — merumuskan hipotesis, menyusun skema konseptual baru.

Keterbatasan pilihan ganda untuk level ini

Item pilihan ganda kurang cocok untuk mengukur Mencipta secara murni, karena level ini menekankan kemampuan peserta menghasilkan ide orisinal. Dalam praktiknya, level ini lebih sering diukur lewat esai atau project-based assessment dibanding tes obyektif.

Untuk tes yang harus tetap terstandardisasi dan objektif skornya (seperti tes potensi), pendekatan yang lebih realistis adalah meminta peserta mengenali hasil sintesis terbaik dari beberapa opsi yang disediakan.

HOTS pada tes prestasi vs. tes potensi

Jalan yang berbeda menuju level yang sama

  • Tes potensi — item dirancang mengukur proses bernalar, bukan isi materi (Pertemuan 5–7). Karena itu, item yang baik pada tes potensi hampir otomatis berada di level Menganalisis atau Mengevaluasi; misalnya item induction dan general sequential reasoning yang sudah dibahas di Pertemuan 7.
  • Tes prestasi — item diturunkan dari TIK yang terikat pada materi tertentu (Pertemuan 4). Naik dari LOTS ke HOTS di sini harus disengaja: soal hafalan TIK perlu diubah menjadi soal yang menuntut analisis kasus atau penerapan pada situasi baru.

Relevansi untuk proyek akhir

Tes kognitif yang Anda susun untuk proyek akhir (Pertemuan 14) akan lebih kuat validitas isinya jika sebagian butirnya secara sengaja dirancang di level HOTS, sesuai proporsi pada blueprint Anda (Pertemuan 2 dan 3).

Kesalahan umum menulis item HOTS

Dua kesalahan yang sering terjadi

  • HOTS semu — stimulus dibuat panjang dan tampak kompleks, tetapi jawabannya bisa ditemukan langsung dari stimulus tanpa perlu memproses informasi baru. Proses kognitif yang sebenarnya dituntut tetap Mengingat.
  • Kesulitan bahasa yang tidak relevan — stimulus ditulis dengan bahasa yang terlalu rumit sehingga item lebih banyak menguji kemampuan literasi peserta dibanding proses kognitif yang dimaksud.

Prinsip menulis stem dan options dari Pertemuan 7 — kalimat positif, satu ide inti, panjang pilihan yang setara juga tetap berlaku penuh untuk item HOTS. Level kognitif yang lebih tinggi bukan alasan untuk mengabaikan prinsip dasar ini.

Aktivitas: menelaah butir HOTS

Item untuk ditelaah

“Bacalah paragraf berikut: ‘Bias budaya dalam tes kognitif terjadi ketika sebuah tes menghasilkan kesalahan pengukuran yang sistematis terhadap kelompok budaya tertentu.’ Berdasarkan paragraf di atas, definisi dari bias budaya adalah…”

  1. Kesalahan pengukuran acak pada semua peserta B) Kesalahan pengukuran sistematis terhadap kelompok budaya tertentu C) Perbedaan skor rata-rata antar kelompok budaya D) Ketidaksesuaian norma tes dengan populasi

Diskusikan dengan rekan Anda: apakah item ini benar-benar mengukur level Menganalisis?

Kunci

Bukan — jawaban (B) bisa ditemukan dengan mencocokkan kalimat pada stimulus secara langsung, tanpa perlu memproses atau menghubungkan informasi apa pun. Ini contoh HOTS semu: stimulus terlihat seperti seolah-olah membutuhkan keterampilan analisis, tetapi proses kognitif yang dituntut tetap Mengingat.

Ringkasan

  1. HOTS mencakup tiga level tertinggi taksonomi Bloom revisi: Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta.
  2. Item HOTS yang baik punya stimulus dan konteks yang belum pernah dijumpai peserta persis dalam bentuk yang sama.
  3. Sub-kategori taksonomi asli Bloom dkk. (1956) — analisis unsur/hubungan/prinsip pengorganisasian, kriteria evaluasi internal/eksternal, tiga bentuk produk sintesis — tetap berguna sebagai panduan praktis menulis item.
  4. Mencipta secara murni sulit diukur dengan pilihan ganda; tes potensi biasanya mendekatinya lewat item pengenalan pola.
  5. Item tes potensi cenderung otomatis berada di level HOTS; item tes prestasi perlu sengaja dinaikkan levelnya dari TIK yang ada.
  6. Waspadai HOTS semu — stimulus rumit yang jawabannya tetap bisa ditemukan lewat mengingat.

Untuk Pertemuan 10

Selanjutnya: praktik terstruktur

Pertemuan 10 memulai rangkaian praktik menyusun tes kognitif dengan bimbingan terstruktur, dimulai dari spesifikasi item dan penyusunan blueprint untuk proyek akhir kelompok Anda.

Terima kasih!😊

Ada pertanyaan?

Paparan disusun dengan menggunakan dan Quarto dengan template dari UNAIR Theme.

Rujukan

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives. Longman.

Bloom, B. S., Engelhart, M. D., Furst, E. J., Hill, W. H., & Krathwohl, D. R. (1956). Taxonomy of educational objectives: The classification of educational goals. Handbook I, Cognitive domain. David McKay Company.

Brookhart, S. M. (2010). How to assess higher-order thinking skills in your classroom. ASCD.

Haladyna, T. M., Downing, S. M., & Rodriguez, M. C. (2002). A review of multiple-choice item-writing guidelines for classroom assessment. Applied Measurement in Education, 15(3), 309–334.

Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom’s taxonomy: An overview. Theory Into Practice, 41(4), 212–218. https://www.jstor.org/stable/1477405?seq=1