CAIS – Research for the Digital Age

Matrikulasi Program Studi S3 Psikologi

Dr. Rizqy Amelia Zein (Research Data and Methods Team, Center for Advanced Internet Studies & Department of Psychology, Universitas Airlangga)

Agar Riset Dapat Direka Ulang

Memastikan riset dapat direka ulang dari sudut pandang orang pertama

AGENDA

  1. Replication Crisis dan Mengapa Reproducibility Penting
  2. Data Management Plan
  3. Pre-registration
  4. Literate Programming
  5. Registered Reports
  6. Kesimpulan

01

Replication Crisis dan Mengapa Reproducibility Penting

Mari Kita Mulai dengan Sebuah Thought Experiment

Anda membaca sebuah temuan menarik di suatu jurnal top dan membayangkan paper ini akan menjadi landasan fundamental dari disertasi Anda.

  • Pertanyaan 1: Jika tim lain mencoba ulang studi yang sama dengan mengambil data baru, apakah mereka akan menemukan hasil yang sama?
  • Pertanyaan 2: Jika Anda menganalisis ulang data asli dengan script/file analisis asli dari penelitian tersebut, apakah Anda akan mendapatkan hasil yang sama persis seperti yang dilaporkan dalam paper tersebut?
  • Secara intuitif, kita berasumsi jawaban untuk keduanya adalah “ya, tentu saja! Paper ini, kan, sudah dipublikasikan di jurnal top Q1!
  • Selama 15 tahun terakhir, para peneliti benar-benar mengeceknya dan jawabannya… akan membuat Anda kaget.

Awal Mula Masalahnya (awal 2010-an)

  • 2011 — Paper “prekognisi” Bem: sebuah jurnal top (Journal of Personality and Social Psychology - JPSP) mempublikasikan bukti bahwa orang bisa merasakan apa yang akan terjadi di masa depan (Bem, 2011) dengan menggunakan metode eksperimen dan menguji hipotesisnya dengan tes statistik standar. Jika sebuah eksperimen perilaku bisa “membuktikan” hal yang mustahil, lalu apa implikasinya bagi metode tersebut?
  • 2011 — Kasus kecurangan akademik Diederik Stapel: seorang profesor psikologi sosial terkemuka terbukti memalsukan data di puluhan paper yang sudah dipublikasikan.
  • 2011 — “False-Positive Psychology” (Simmons, Nelson, & Simonsohn): menunjukkan bahwa pilihan-pilihan analitis yang kesannya remeh, biasa, tetapi tidak diungkapkan bisa membuat apa pun menjadi signifikan secara statistik. Di paper ini, mereka menunjukkan betapa “mudahnya” membuktikan bahwa mendengarkan sebuah lagu yang spesifik (“When I’m 64”) membuat orang merasa lebih muda.
  • Peristiwa-peristiwa ini memicu pertanyaan besar: seberapa banyak klaim ilmiah di literatur Psikologi yang benar-benar bisa kita percaya?

Sebanarnya… bukan masalah baru

Proyek multi-site replications

Tim-tim riset besar secara sistematis mencoba ulang studi-studi yang sudah dipublikasikan dengan data baru, dan inilah hasilnya:

36%

dari 100 studi psikologi yang dicoba ulang — Open Science Collaboration (2015)

61%

dari 18 eksperimen laboratorium ekonomi yang dicoba ulang — Camerer et al. (2016)

62%

dari 21 studi ilmu sosial dari Nature & Science yang dicoba ulang — Camerer et al. (2018)

49%

dari 164 paper di 12 disiplin ilmu yang dicoba ulang dalam proyek SCORE (Nature, April 2026)

  • Bahkan ketika efeknya berhasil dicoba ulang, rata-rata effect sizenya hanya sekitar setengah dari yang dilaporkan pada awalnya (dikenal sebagai “The Decline Effect”) — SCORE menemukan pola yang sama lagi pada 2026.
  • SCORE adalah riset reka ulang terbesar sejauh ini: 865 peneliti menilai 3.900 paper (2009–2018, 62 jurnal, mencakup ekonomi, psikologi, ilmu politik, sosiologi, dan lainnya). Mereka ulang analisis yang sudah dipublikasikan pada data asli hanya berhasil 54% dari keseluruhan kasus.
  • Pola ini, yang muncul di psikologi, ekonomi, dan bidang-bidang lainnya, dan kini terkonfirmasi dalam skala besar, bahwa apa yang disebut media sebagai replication crisis memang benar-benar terjadi.

Tiga Istilah yang Sering Tertukar

Berdasarkan Barba (2018) dan The Turing Way, kebanyakan orang sering mencampuradukkan istilah-istilah ini:

Reproducibility (🇮🇩 “reka ulang”)

Data sama + analisis sama → hasil sama. Orang lain (atau diri Anda sendiri di masa depan) menjalankan ulang analisis Anda pada data milik Anda dan mendapatkan angka-angka yang sama seperti di paper Anda.

Replicability (🇮🇩 “coba ulang”)

Data baru + metode sama → hasil serupa. Tim independen mengulang studi tersebut dengan partisipan baru dan menemukan effect size yang sebanding dengan penelitian aslinya.

Robustness (🇮🇩 “keandalan”)

Data sama + analisis baru → hasil sama, atau setidaknya kesimpulan yang serupa. Temuan tetap stabil meskipun menggunakan strategi analitis yang berbeda.

Lihat Perbedaannya Lebih Jelas

Yang Lebih Mencemaskan

Mari kita lupakan sejenak soal mengumpulkan data baru (atau replikasi). Bisakah kita bahkan mereka ulang hasil penelitian dari data aslinya? (atau reproducibility)

  • Hardwicke et al. (2018) mencoba mereka ulang hasil dari paper-paper yang terbit di jurnal dengan kebijakan yang mewajibkan data terbuka di jurnal Cognition: hanya 11 dari 35 paper yang berhasil direka ulang tanpa bantuan dari penulis aslinya.
  • Artner et al. (2021) hanya bisa mereproduksi ~70% klaim statistik utama dari artikel-artikel psikologi yang sudah dipublikasikan, dan sebagian di antaranya baru berhasil setelah melakukan kerja ala detektif yang cukup berat.
  • Crüwell et al. (2023) mengecek badgeopen data” di Psychological Science: hanya 1 dari 14 artikel yang dinilai sepenuhnya computationally reproducible.
  • Dan ini langsung berdampak pada kehidupan banyak orang: flagship paper tentang kebijakan austerity Reinhart & Rogoff yang sangat terkenal, yang banyak digunakan untuk membenarkan kebijakan ekonomi di banyak negara, ternyata mengandung kesalahan di file Excelnya yang amat sepele, dan baru ditemukan ketika seorang mahasiswa pascasarjana mendapatkan spreadsheet-nya (Herndon et al., 2014).

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Ini sebagian besar bukan soal kecurangan yang benar-benar mengandung niat jahat, melainkan perilaku manusia yang sekadar mengikuti insentif.

  • Publication bias: jurnal lebih menyukai temuan yang baru, positif, dan “bersih”. Karena itu, hasil negatif/null sering kali berakhir di laci arsip (file drawer).
  • Publish or perish: karier akademik dibangun berdasarkan jumlah publikasi, bukan kualitas substantifnya.
  • Questionable research practices (QRPs): area abu-abu antara praktik baik dan kecurangan (John et al., 2012):
    • p-hacking: mencoba banyak analisis dan hanya melaporkan yang “berhasil”
    • HARKing: Hypothesizing After the Results are Known — menyajikan temuan eksploratif seolah-olah memang sudah diprediksi sebelumnya (Kerr, 1998).
    • Pelaporan selektif (selective reporting) terhadap pengukuran, kondisi (eksperimen), atau temuan penelitian.
  • The garden of forking paths: bahkan tanpa niat buruk sekalipun, setiap dataset memungkinkan pilihan analisis yang sangat banyak dan sama-sama bisa dipertahankan secara metodologis, sehingga fleksibilitas dalam pilihan analitis bisa meningkatkan false positive rate (Gelman & Loken, 2014).

An article about computational science in a scientific publication is not the scholarship itself, it is merely advertising of the scholarship. The actual scholarship is the complete software development environment and the complete set of instructions which generated the figures.

Buckheit & Donoho (1995), memparafrasekan Jon Claerbout

Mengapa Anda Perlu Peduli?

Memastikan hasil kita dapat direka ulang dapat memberi kita lebih banyak kepercayaan diri atas pekerjaan kita.

  • Kolaborator terdekat Anda adalah diri Anda sendiri, enam bulan yang lalu, dan diri Anda di masa lalu tidak dapat membalas chat WhatsApp. Alur kerja yang reproducible berarti Anda selalu bisa menelusuri kembali langkah-langkah Anda sendiri.
  • Kesalahan tertangkap lebih awal, sebelum berakhir di disertasi Anda, ujian/sidang, atau bahkan retraction.
  • Reviewer, promotor, dan komite ujian semakin mengharapkannya. Pendana besar dan jurnal kini rutin mensyaratkan peneliti untuk membagikan data dan material riset.
  • Membuat Anda lebih efisien. Menjalankan ulang analisis setelah diminta promotor: “tolong tambahkan satu variabel kontrol saja” hanya butuh satu klik.
  • Ini membangun kepercayaan terhadap pekerjaan Anda. Riset yang reproducible akan lebih banyak digunakan ulang, disitasi, dan dikembangkan lebih lanjut.

“Tangga Reproducibility”🪜

Mulailah dengan strategi yang Anda butuhkan, bukan yang Anda inginkan. Empat praktik dalam presentasi ini bukan checklist yang harus selesaikan semester ini, atau bahkan sepanjang program S3 Anda. Ini adalah tangga yang akan Anda daki selama bertahun-tahun sepanjang karier profesional Anda ke depan.

  • Anak tangga 1 — Data Management Plan: memiliki hambatan yang paling rendah, tetapi manfaat paling langsung. Sebuah folder yang bisa dijelajahi siapa pun, termasuk Anda di masa depan.
  • Anak tangga 2 — Pre-Registration: sebuah disiplin perencanaan riset, yaitu dengan menuliskan hipotesis sebelum Anda melihat data.
  • Anak tangga 3 — Literate Programming: sebuah kebiasaan teknis dengan menganyam teks + script analisis dalam satu dokumen. Dengan sekali klik, software menjalankan analisis dan menganyam hasil penelitian di dalam teks, bukan disalin secara manual.
  • Anak tangga 4 — Registered Reports: membutuhkan komitmen terbesar — peer review dilakukan sebelum mengambil data, bisa berlangsung selama bertahun-tahun.
  • Inilah urutan yang saya alami ketika mendaki tangga ini, selama kurang lebih 15 tahun perjalanan karier akademik saya. Saya akan tunjukkan seperti apa bentuknya masing-masing anak tangga ini dari sudut pandang saya.

02

Data Management Plan

Apa Itu Data Management Plan (DMP)?

Sebuah dokumen singkat dan hidup (living document), yang ditulis sebelum Anda mengumpulkan data, yang menjelaskan bagaimana data akan dikumpulkan, didokumentasikan, disimpan, dilindungi, dan dibagikan.

  • Anggap saja ini sebagai menjawab pertanyaan: “Jika saya menghilang besok, bisakah orang lain menemukan, memahami, dan menggunakan data saya?”
  • Semakin diwajibkan oleh funder (DFG, ERC, NIH, dan banyak funder internasional lainnya) dan oleh komite etik.
  • DMP memaksa munculnya pertanyaan yang tepat pada waktu yang tepat, sebelum masalah menjadi tidak bisa diperbaiki lagi (misalnya, formulir informed consent yang justru melarang data dibagikan).
  • Tools gratis dengan template dan panduan: DMPTool dan DMPonline.
  • Berikut beberapa contoh yang bisa diadopsi: Contoh 1, Contoh 2, Contoh 3, Berbagai macam contoh.

Menanamkan Kebiasaan Manajemen Data ke dalam Proyek yang Sedang Berjalan

Saya sedang mengerjakan scoping review tentang praktik reproducibility di bidang ekonomi dan ilmu sosial, yang merupakan bagian dari proyek penelitian dengan anggota tim dari berbagai institusi. Struktur folder kerjanya seperti ini:

litsearch/
├── codes/                        R scripts
├── coding/                       Codebooks, coding sheets, dan Google Form/Sheet
├── dataset/                      Dataset siap analisis, hasil ekspor dari coding
├── output/
│   ├── search_output/            Output pipeline pencarian literatur (01–11)
│   ├── analysis_output/          Tabel dan gambar dari analisis
│   └── cleaning_log/             Flag kualitas data dari proses pembersihan respons
└── protocol_logbook.docx         Logbook protokol dan keputusan
  • Setiap file juga diberi satu kalimat deskripsi — misalnya 10_final_set.xlsx: “The 145-paper final corpus… verified against Zotero subcollection RIS exports.” Lihat README-nya di sini.
  • Manfaat #1 — untuk diri saya di masa depan: saya kembali ke folder ini setelah berbulan-bulan mengerjakan tugas lain, dan tetap tahu persis harus mencari ke mana.
  • Manfaat #2 — pembaca di masa depan: ketika ini nanti menjadi paper yang dipublikasikan, reviewer dan pembaca bisa memverifikasi apa pun yang saya lakukan.

Apa Saja yang Termasuk dalam DMP?

Documentation

Data apa yang akan Anda kumpulkan dan bagaimana caranya? Format apa saja? Bentuknya bisa sebuah kamus data (codebook) yang mendeskripsikan setiap variabel (nama, redaksi pertanyaan, coding, missing value) agar data tetap bisa dipahami tanpa kehadiran Anda.

Storage & Ethics

Di mana data akan disimpan, bagaimana cara backup-nya (aturan 3-2-1), siapa yang punya akses? Bagaimana partisipan dilindungi, termasuk informed consent, anonimisasi atau pseudonimisasi, serta persyaratan hukum yang berlaku?

Sharing & Preservation

Data mana yang bisa dibagikan, di mana, dengan lisensi apa, dan kapan? Apa yang diarsipkan dalam jangka panjang (biasanya 10 tahun) dan di repository tepercaya yang mana?

Data FAIR

Standar acuan untuk data riset yang dibagikan (Wilkinson et al., 2016), data seharusnya FAIR:

F

Findable — disimpan dengan pengenal permanen (DOI) dan metadata yang kaya

A

Accessible — dapat diambil lewat protokol standar; syarat aksesnya jelas

I

Interoperable — format terbuka (CSV, bukan hanya SPSS), menggunakan kosakata standar

R

Reusable — lisensi jelas, provenance (informasi tentang asal-usul data), dan dokumentasi yang cukup untuk digunakan ulang

  • Penting: FAIR ≠ terbuka (open). Prinsipnya adalah “seterbuka mungkin, setertutup yang diperlukan.” Data sensitif tetap bisa FAIR meskipun aksesnya dibatasi.

Kebiasaan Praktis yang Gratis

  • Penamaan file: mudah dibaca mesin, mudah dibaca manusia, mudah diurutkan — 2026-07-08_study1_raw.csv, bukan data baru FINAL (2).sav. Tanpa spasi, tanpa karakter khusus, tanggal dalam format YYYY-MM-DD.
  • Data mentah adalah sesuatu yang sakral: simpan sebagai read-only, di satu tempat; semua perubahan dilakukan lewat script ke data/processed/.
  • Tulis codebook-nya sambil Anda menyusun survei.
  • Pilih repository untuk menyimpan data: OSF, Zenodo, PsychData, RIN Dataverse (BRIN) — semuanya menyediakan DOI dan preservasi jangka panjang.
  • Pilih lisensi agar orang lain tahu apa yang boleh mereka lakukan: misalnya, CC0/CC-BY untuk data dan materi, MIT/GPL untuk kode.
  • Rencanakan informed consent yang mencakup izin pembagian data: tambahkan kalimat terkait berbagi data ke informed consent Anda sekarang juga, karena Anda tidak bisa meminta izin secara retroaktif kepada 800 partisipan yang anonim.

03

Pre-Registration

Masalah yang Diselesaikan oleh Pre-Registration

  • Ingat kembali garden of forking paths: dengan fleksibilitas yang cukup, hasil signifikan hampir selalu bisa ditemukan.
  • Statistik hanya bisa berfungsi dengan baik jika perbedaan antara dua mode riset ini diakui secara jujur:
    • Riset confirmatory: hipotesis ditentukan sebelum melihat data → nilai p menjadi pengujian yang bermakna.
    • Riset exploratory: pola ditemukan di dalam data → berguna untuk menghasilkan hipotesis, tetapi nilai p tidak lagi berarti seperti yang diklaim.
  • Keduanya sama-sama boleh. Masalahnya adalah menyajikan eksplorasi seolah-olah konfirmasi (HARKing).
  • Pre-registration mengembalikan perbedaan ini: Anda menuliskan hipotesis, desain, dan rencana analisis Anda sebelum pengumpulan data, dalam sebuah registry yang diberi cap waktu (time-stamped) dan read-only (Nosek et al., 2018).

Dari Pekerjaan Saya Sendiri: Mengunci Hipotesis Sebelum Melihat Data

Salah satu contoh yang sudah saya lakukan: “Science and Religion in the Times of Crisis”, pre-registered di OSF.

  • Studi ini menguji dilution effect: apakah menawarkan lebih banyak penjelasan atas suatu krisis justru mengurangi seberapa berguna setiap penjelasan tersebut terasa bagi orang (Jackson et al., 2024).
  • Saya menuliskan hipotesisnya, dalam sebuah catatan publik yang diberi cap waktu, sebelum saya tahu apakah datanya akan mendukungnya atau tidak.
  • Ini sangat membantu saya merencanakan studi dengan lebih baik dan mempertahankan pilihan desain saya ketika mendiskusikannya dengan supervisor saya.
  • Apa pun hasilnya nanti, saya tidak bisa begitu saja membingkai ulang studi ini seolah-olah “memang ini yang saya prediksi sejak awal.” Cap waktu membuat klaim ini mustahil, dan ini membantu saya tetap jujur pada diri saya sendiri.
  • Saya sudah melakukan pre-registration untuk setiap studi yang saya jalankan sejak 2021.
    • Pre-registration sekarang sudah menjadi bagian normal dari mendesain sebuah studi.

Apa Saja yang Termasuk dalam Pre-Registration?

Registry gratis dengan template: OSF Registries dan AsPredicted. Isi umumnya:

Hypotheses & Design

Hipotesis terarah (directional), IV dan DV dengan operasionalisasi yang tepat, desain studi, kondisi, dan prosedur.

Sample & Exclusions

Target ukuran sampel dengan justifikasi (misalnya, power analysis), stopping rule, dan kriteria eksklusi.

Analysis Plan

Model statistik yang pasti untuk setiap hipotesis, penanganan missing data dan outlier, kriteria inferensi, serta apa yang akan Anda lakukan jika asumsinya tidak terpenuhi.

Kekhawatiran Umum (dan Mengapa Sebagian Besar Tidak Beralasan)

  • “Ini seperti penjara — saya jadi tidak bisa fleksibel.” Bisa, kok! Penyimpangan itu wajar; Anda tinggal melaporkannya secara transparan (“kami menyimpang dari rencana karena…”). Registry hanya membuat penyimpangan itu menjadi terlihat.
  • “Ini membunuh eksplorasi.” Tidak. Anda tetap bisa bereksplorasi dengan bebas; hasilnya hanya diberi label sebagai exploratory. Banyak template bahkan punya bagian khusus untuk analisis eksploratif yang sudah direncanakan.
  • “Nanti ide saya diserobot orang.” Registrasi bisa diembargo (dirahasiakan) sampai Anda mempublikasikannya.
  • “Ini menambah terlalu banyak pekerjaan administratif.” Registrasi AsPredicted hanya berisi 9 pertanyaan. Dan sebagian besar isinya adalah teks yang tetap Anda butuhkan untuk pengajuan etik dan bagian metode Anda. Anda pada dasarnya hanya menulisnya lebih awal.
  • Catatan penting: pre-registration bukan solusi instan untuk kualitas temuan. Banyak pre-registration yang masih tidak jelas, dan penyimpangan sering tidak dilaporkan (van den Akker et al., 2024). Nilainya justru datang dari rencana yang spesifik dan pelaporan yang transparan yang merupakan sebuah keterampilan yang bisa Anda latih sejak studi pertama Anda.

04

Literate Programming

Alur Kerja Copy-Paste

Alur kerja dalam riset psikologi biasanya seperti ini:

  • Menjalankan analisis di SPSS dengan mengklik-klik menu…
  • …menyalin angka-angkanya ke dokumen Word secara manual…
  • …memformat tabelnya secara manual…
  • …lalu seorang reviewer meminta Anda mengeluarkan tiga partisipan, dan Anda harus melakukan semuanya lagi dari awal, sambil berharap Anda mengklik tombol-tombol yang persis sama.
  • Setiap langkah manual adalah tempat kesalahan sangat mungkin terjadi, dan tidak ada seorang pun (termasuk Anda sendiri) yang bisa memverifikasi kembali apa yang sebenarnya sudah dilakukan.
    • Kalau pun ada yang mengecek, butuh usaha, waktu, dan tenaga yang sangat besar untuk melakukannya.
  • Kira-kira separuh dari paper psikologi yang dipublikasikan mengandung setidaknya satu statistik yang tidak konsisten — misalnya, nilai p yang tidak cocok dengan statistik ujinya sendiri (Nuijten et al., 2016).

Let us change our traditional attitude to the construction of programs: Instead of imagining that our main task is to instruct a computer what to do, let us concentrate rather on explaining to human beings what we want a computer to do.

Literate Programming: Satu Dokumen untuk Semuanya

Idenya: menganyam narasi teks, kode analisis, dan hasilnya (tabel, gambar, statistik) menjadi satu dokumen yang memperbarui dirinya sendiri.

  • Anda menulis teks dan script secara bersamaan; satu klik (“Render”) menjalankan semua perintah dan menghasilkan laporan jadi, sehingga angka, tabel, dan gambar disisipkan secara otomatis.
  • Ubah datanya atau analisisnya → render ulang → setiap angka dalam dokumen memperbarui dirinya sendiri, tanpa perlu menyalin-tempel angka secara manual.
  • Dokumennya sendiri adalah jejak audit: siapa pun bisa melihat persis kode mana yang menghasilkan hasil yang mana.
  • Fakta menarik: slide yang sedang Anda lihat ini adalah hasil literate programming😉 Ini adalah dokumen Quarto yang di-render menjadi presentasi.

Contoh Dari Pekerjaan Saya Sendiri

Saya melakukan pre-registration dengan tekun selama bertahun-tahun sebelum saya belajar Quarto. Literate programming adalah anak tangga yang baru saya kuasai jauh setelah itu, dan pilihan ini mengubah cara saya menulis paper.

  • Setiap folder proyek juga merupakan repository Git — riwayat lengkap dari setiap perubahan (version control), sehingga saya (atau seorang reviewer) bisa melihat persis bagaimana sebuah angka muncul.
  • Dokumennya menarik angka langsung dari hasil analisis.
    • Saya berhenti mengetik hasil secara manual ke Word, yang justru merupakan langkah tempat kesalahan copy-paste dulu sering muncul.
  • Contoh: grm-tutorial-paper, repository di balik paper yang sudah dipublikasikan yang ditulis sepenuhnya sebagai dokumen literate.
  • Bonus yang memuaskan😉: editor dan reviewer berkomentar soal betapa rapinya proyek ini terlihat. Ini sebenarnya bukan tujuan utama dari literate programming, tapi ini tentu saja baik untuk reputasi Anda juga.

Alat-Alatnya

Semuanya gratis, semuanya open source, dan semuanya punya komunitas serta tutorial yang beragam:

Quarto/R Markdown

Teks (Markdown) + potongan script R/Python → paper, slide, situs web, disertasi. Bersama R dan RStudio/Positron. quarto.org

Jupyter Notebooks

Notebook interaktif untuk Python (dan R, Julia). Umum digunakan dalam data science dan pemodelan komputasional. jupyter.org

Git & GitHub/OSF

Version control: riwayat lengkap dari setiap perubahan pada kode dan teks Anda, semacam “track changes” untuk seluruh proyek Anda, jadi tidak ada lagi disertasi_final_v7_BISMILLAH.docx.

Seperti Apa Bentuknya

Alih-alih menyalin angka, Anda tinggal menulis:

```{r}
data <- read.csv(here::here("data", "processed", "study1.csv"))
model <- lm(wellbeing ~ social_media_use + age, data = data)
```

Dan di teks Anda, Anda menulis:

Social media use was negatively associated with wellbeing,
b = `r round(coef(model)[2], 2)`.
  • Ketika di-render, `r ` digantikan oleh nilai aktual yang dihitung dari data, sehingga selalu terkini dan tidak pernah salah ketik.
  • Package seperti papaja dan apaquarto (manuskrip APA) serta apaTables memformat seluruh bagian hasil untuk Anda secara otomatis.

Melampaui Dokumen: Proyek yang Reproducible

Literate programming bekerja paling baik di dalam proyek yang terorganisasi dengan baik:

  • Satu folder per proyek, dengan struktur standar: data/raw/ (read-only!), data/processed/, scripts/, output/, README.md.
  • Path relatif, jangan pernah pakai path absolut: here::here("data", "raw", "survey.csv"), bukan C:/Users/amelia/Desktop/... — sehingga bisa dijalankan di komputer mana pun, bukan hanya komputer Anda.
  • Atur seed (set.seed(42)) setiap kali ada unsur keacakan (randomness), agar hasilnya identik setiap kali dijalankan.
  • Catat environment Anda: versi package bisa berubah. Tools seperti renv () atau renv + pyenv () menyimpan snapshot dari versi persis yang Anda gunakan.
  • Jangan pernah mengedit data mentah secara manual — setiap langkah pembersihan data dilakukan lewat script, sehingga jejak dari data mentah ke tabel akhir terdokumentasi sepenuhnya. Selalu simpan data mentah versi asli yang belum dibersihkan.

Computational Empathy

Semangat di balik semua kebiasaan ini adalah apa yang disebut The Turing Way sebagai computational empathy: mengantisipasi kebutuhan orang lain yang akan mencoba menjalankan pekerjaan Anda tanpa bantuan Anda sama sekali.

  • Orang ini tidak memiliki struktur folder Anda, package yang Anda install, sistem operasi Anda, atau detail krusial yang hanya ada di kepala Anda.
  • Tanyakan pada diri Anda: bisakah orang lain dengan komputer yang berbeda, tanpa kesempatan untuk mengirim email ke saya, bisa menganalisis data mentah sampai ke temuan penelitian?
  • Dalam praktiknya, computational empathy berarti:
    • sebuah README yang memuat informasi tentang riset Anda, file apa yang ada di mana, dan dalam urutan apa menjalankan semuanya;
    • menyatakan requirements di depan: nama dan versi software, versi package (renv!), estimasi waktu running scriptnya;
    • memberikan komentar “mengapa”-nya dalam script Anda;
    • tanpa path absolut, tanpa “hapus baris 13 secara manual dulu,” tanpa file yang hanya ada di desktop Anda.

Computational Empathy

Semangat di balik semua kebiasaan ini adalah apa yang disebut The Turing Way sebagai computational empathy: mengantisipasi kebutuhan orang lain yang akan mencoba menjalankan pekerjaan Anda tanpa bantuan Anda sama sekali.

  • Tes mudah: serahkan material riset Anda ke seorang kolega dan lihat mereka mencoba menganalisisnya. Setiap pertanyaan yang mereka ajukan adalah potongan dokumentasi yang hilang.
  • Dan ingat: orang asing yang Anda perlakukan dengan baik ini biasanya adalah diri Anda sendiri di masa depan.

05

Registered Reports (RR)

Registered Reports: Pre-Registration dengan Kekuatan Super🦸‍♀️🦸

Sebuah Registered Report (RR) adalah format artikel jurnal di mana peer review terjadi sebelum mengambil data (Chambers & Tzavella, 2022).

  • Stage 1: Anda mengajukan pendahuluan, hipotesis, dan metode yang detail sebelum pengumpulan data. Reviewer mengkritisi desainnya selagi Anda masih bisa memperbaikinya.
  • Jika diterima, Anda mendapatkan In-Principle Acceptance (IPA): jurnal berkomitmen untuk mempublikasikan paper Anda apa pun hasilnya nanti.
  • Stage 2: Anda menjalankan studinya persis seperti yang sudah disetujui, mengajukan paper lengkap; reviewer hanya mengecek apakah Anda mengikuti rencana dan menginterpretasikan hasil secara masuk akal.
  • Publikasi tidak lagi bergantung pada hasil yang “menarik” → publication bias terpotong dari akarnya, dan p-hacking kehilangan tujuannya.

Dari Pekerjaan Saya Sendiri: Anak Tangga yang Butuh ~2,5 Tahun

Saya sekarang sudah menjadi bagian dari tiga Registered Reports yang sudah dipublikasikan. Ini adalah yang pertama kali saya menjadi penulis utama (first author), dan yang paling saya banggakan.

  • Dari pertama kali merancang desainnya hingga paper-nya terbit: sekitar dua setengah tahun.
  • Dipublikasikan sebagai sebuah Registered Report; postprint-nya tersedia open-access di PsyArXiv.
  • Prosesnya lambat, dan pada beberapa titik terasa membuat frustrasi.
    • Review Stage 1 mendorong Anda untuk mendesain ulang sebelum Anda sempat mengumpulkan satu pun data.
    • Ini sangat sulit, tetapi justru di situlah letak seluruh manfaatnya: saya memperbaiki potensi masalah desain penelitian lebih awal di atas kertas, bukan ketika setelah menjalankan beberapa studi dengan ~300 partisipan.
  • Saya tidak akan mencoba ini sebagai praktik reproducibility pertama saya. Ini baru masuk akal setelah pre-registration dan literate programming sudah menjadi kebiasaan rutin.

Apakah RR Berhasil?

96%

dari artikel psikologi standar melaporkan hasil positif (mengonfirmasi hipotesis) — sebuah tingkat keberhasilan yang secara statistik tidak masuk akal

44%

dari Registered Reports melaporkan hasil positif (Scheel, Schijen, & Lakens, 2021)

300+

jurnal kini menawarkan format RR, termasuk Nature Human Behaviour, Cortex, dan banyak jurnal psikologi top lainnya (daftar COS)

  • RR juga dinilai lebih cermat secara ilmiah (rigorous) dan berkualitas lebih tinggi dibandingkan paper standar yang sebanding (Soderberg et al., 2021).

Registered Reports dan S3 Anda

  • Masukan dari reviewer datang saat masih berguna, sebelum Anda menghabiskan satu tahun untuk mengumpulkan data.
  • IPA adalah jaminan publikasi yang bisa Anda jadikan dasar merencanakan disertasi: tidak perlu lagi berharap-harap cemas menunggu hasil publikasi sebelum ujian.
  • Hasil null menjadi temuan yang bisa dipublikasikan, bukan tahun-tahun yang terbuang percuma dan sekaligus baik untuk track record Anda.
  • Soal waktu: review Stage 1 memerlukan waktu, jadi RR cocok untuk studi yang direncanakan jauh-jauh hari (tetapi sangat cocok untuk proposal S3!), tapi kurang cocok untuk pilot study yang cepat.
  • Dalam beberapa kasus, reviewer meminta pilot study dulu untuk menjustifikasi desain yang diusulkan dalam RR.
  • Beberapa jurnal menawarkan fast-track atau jadwal review khusus untuk proyek mahasiswa; Peer Community In RR (PCI RR) mereview protokol Stage 1 secara independen dari jurnal mana pun.
  • Bicarakan dengan promotor dan kopromotor Anda sejak dini: bab disertasi berbasis RR semakin umum dan sangat berharga bagi karier ilmiah seseorang.
    • Mungkin belum menjadi praktik umum di Unair, tapi ini semakin umum di banyak belahan dunia lain.

06

Kesimpulan

Dari Mana Saya Memulai

Mulailah dengan transparansi yang Anda butuhkan, bukan yang Anda inginkan. Berikut urutan yang benar-benar saya daki:

  1. Data Management Plan — hambatan paling rendah, hasil paling langsung. Saya mulai dari sini karena ini langsung membantu studi yang sedang saya jalankan saat itu.
  2. Pre-registration — setelah mengorganisasi data menjadi rutinitas, merencanakan analisis di muka menjadi komitmen berikutnya yang wajar.
  3. Literate programming — sebuah keterampilan teknis yang saya bangun setelah pre-registration membuat saya terbiasa berpikir dalam kerangka “rencana yang tertulis.”
  4. Registered Report — anak tangga tersulit, dan yang butuh 2,5 tahun. Saya tidak akan memulai dari sini.
  • Semua ini terjadi selama kurang lebih 15 tahun, dimulai satu kebiasaan pada satu waktu.

Gambaran Besarnya

  • Rencanakan (Plan) → tulis data management plan; lakukan pre-registration untuk hipotesis dan rencana analisis Anda atau langsung all-in dengan registered report.
  • Kerjakan (Do) → organisasikan proyek Anda dalam satu folder; jaga data mentah tetap read-only; analisis dengan literate programming agar setiap hasil bisa diperbarui dengan satu klik.
  • Bagikan (Share) → simpan data (FAIR!), script, dan material riset di repository terpercaya dengan DOI dan lisensi; tautkan semuanya dari paper, dengan computational empathy yang cukup agar orang asing benar-benar bisa menjalankannya.
  • Praktik-praktik ini hanya membutuhkan kebiasaan, dan kebiasaan paling mudah dibangun sekarang, di awal S3 Anda, sebelum Anda punya warisan masalah yang harus diurai.
  • Reproducibility adalah sebuah spektrum, bukan tes ya/tidak: setiap langkah (sebuah codebook di sini, sebuah script di sana) sudah membuat pekerjaan Anda lebih bisa dipercaya dibandingkan kalau Anda tidak melakukan apa pun sama sekali.

Starter Kit Anda untuk Tahun Pertama

Langkah-langkah konkret pertama:

Minggu Ini

Buat akun Zenodo gratis. Siapkan proyek pertama Anda dengan struktur folder yang rapi dan sebuah README. Ganti nama file-file Anda dengan benar.

Bulan Ini

Pelajari cara menggunakan dan Quarto atau R Markdown lewat tutorial yang tersedia (Intro to , R4DS, Quarto TPG). Lalu, tulis tugas Anda berikutnya sebagai dokumen literate. Susun draf DMP satu halaman untuk proyek disertasi Anda.

Tahun Ini

Lakukan pre-registration untuk studi pertama Anda di OSF atau AsPredicted. Diskusikan dengan promotor Anda apakah salah satu bagian disertasi memungkinkan dijadikan Registered Report.

Di Mana Bisa Belajar Lebih Lanjut

  • The Turing Way — buku panduan gratis yang ditulis bersama komunitas tentang riset yang reproducible (mulai dari “Guide for Reproducible Research”).
  • FORRT — Framework for Open and Reproducible Research Training: glosarium, kumpulan sumber daya, dan ringkasan literatur-literatur kunci.
  • Halaman dukungan OSF — panduan praktis untuk proyek, registrasi, dan preprint.
  • quarto.org — tutorial resmi untuk literate programming dengan R dan Python.
  • Bacaan lanjutan: Munafò et al. (2017), A manifesto for reproducible sciencepaper overview terbaik untuk memulai.
  • Temukan komunitas open science lokal Anda (misalnya, Sains Terbuka Airlangga) — reproducibility jauh lebih mudah, dan lebih menyenangkan, jika dilakukan bersama-sama.

Your closest collaborator is you six months ago, but you don’t reply to emails.

Mark Holder (dipopulerkan oleh Karl Broman) — permudah hidup diri Anda sendiri di masa depan.