Statistik dalam Penelitian Psikologi
2026-04-12
Kecemasan — tidak bisa diobservasi langsung, tetapi bisa diinferensi dari detak jantung cepat, telapak tangan berkeringat, sulit konsentrasi, dan laporan subjektif individu.
Kepribadian (Big 5) — Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, Neuroticism merupakan konstruk laten yang diukur melalui respon terhadap item-item pernyataan.
Prestasi belajar — tidak sepenuhnya tercermin dari nilai ujian saja; ada faktor measurement error dalam setiap tes.
Semua konstruk ini disebut variabel laten (latent variable): variabel yang tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinferensi dari variabel lain yang bisa diukur (observed variables).

\[X = T + E\]
Implikasi penting
CTT mengasumsikan bahwa rata-rata error adalah nol (E(e) = 0) dan error tidak berkorelasi dengan skor murni (Cov(T, E) = 0). Artinya, error bersifat acak — bukan sistematis.
\[\sigma^2_X = \sigma^2_T + \sigma^2_E\]
\[\rho_{XX'} = \frac{\sigma^2_T}{\sigma^2_X} = \frac{\sigma^2_T}{\sigma^2_T + \sigma^2_E}\]
| Reliabilitas (α atau ω) | Interpretasi |
|---|---|
| ≥ 0.90 | Sangat tinggi — excellent |
| 0.80 – 0.89 | Tinggi — good |
| 0.70 – 0.79 | Cukup — acceptable |
| 0.60 – 0.69 | Sedang — perlu perbaikan |
| < 0.60 | Rendah — poor |
Masalahnya: kita tidak pernah mengukur T secara langsung — yang kita ukur selalu X (yang sudah “tercemari” oleh error).
Konsekuensinya: ketika kita mengestimasi korelasi antar-variabel, korelasi yang kita hitung sebenarnya adalah korelasi antar observed scores (rₓᵧ), bukan korelasi antar true scores (rᴛₓᴛᵧ).
Ini menyebabkan atenuasi — korelasi yang kita estimasi selalu lebih kecil dari korelasi yang sebenarnya:
\[r_{XY} = r_{T_X T_Y} \times \sqrt{\rho_{XX'} \times \rho_{YY'}}\]
Attenuation bias
Semakin rendah reliabilitas alat ukur, semakin besar distorsi pada estimasi korelasi. Ini berarti measurement error yang tinggi akan membuat kita meremehkan kekuatan hubungan antar-variabel yang sesungguhnya.
Contoh nyata: Misalkan korelasi true scores antara kecemasan dan prokrastinasi adalah 0.60. Tetapi skala kecemasan yang digunakan memiliki reliabilitas 0.70 dan skala prokrastinasi 0.65.
Korelasi yang akan kita temukan di data:
\[r_{XY} = 0.60 \times \sqrt{0.70 \times 0.65} = 0.60 \times 0.674 = \mathbf{0.40}\]
Koreksi atenuasi
Korelasi true scores dapat diestimasi dari korelasi observed scores dengan koreksi atenuasi: \(r_{T_X T_Y} = \frac{r_{XY}}{\sqrt{\rho_{XX'} \times \rho_{YY'}}}\)
| Model | Apa yang dimodelkan | Kelebihan dibanding CTT |
|---|---|---|
| CTT | X = T + E (level item) | Fondasi — sederhana, tapi tidak menguji struktur laten |
| EFA | Struktur faktor laten yang tidak diketahui | Menemukan faktor laten secara data-driven |
| CFA | Struktur faktor laten yang sudah dihipotesiskan | Menguji validitas konstruk secara teori |
| SEM | Hubungan antar faktor laten + model pengukuran | Menguji model teoritis secara komprehensif |
Note
Keempat model ini membentuk satu kontinum dari yang paling sederhana (CTT) ke yang paling kompleks (SEM). Setiap model yang lebih canggih mengandung logika model sebelumnya.
CTT bekerja di level item — hanya bisa menghitung reliabilitas dan korelasi item-total. CTT tidak menguji apakah item-item tersebut memang mengukur konstruk laten yang sama.
EFA (Exploratory Factor Analysis) memungkinkan kita untuk menemukan struktur faktor laten dari data — berguna saat teori belum jelas atau sedang dalam tahap eksplorasi.
CFA (Confirmatory Factor Analysis) memungkinkan kita untuk menguji apakah struktur faktor yang dihipotesiskan berdasarkan teori didukung oleh data. Ini adalah uji validitas konstruk yang paling ketat.
SEM menggabungkan model pengukuran (CFA) dengan model struktural (regresi/jalur) untuk menguji hipotesis teoritis yang kompleks sekaligus mengontrol measurement error.
Dalam latent variable modeling, ada dua cara konseptual yang berbeda untuk memahami hubungan antara variabel laten dan indikatornya.
Model reflektif: variabel laten menyebabkan indikator bervariasi.
Model formatif: indikator membentuk/mendefinisikan variabel laten.

Reflektif: panah dari laten ke indikator

Formatif: panah dari indikator ke laten
Mengapa ini penting?
Mayoritas konstruk psikologi menggunakan model reflektif, misalnya: skala kepribadian, kecemasan, depresi, dll. Menggunakan model formatif untuk konstruk reflektif (atau sebaliknya) adalah kesalahan konseptual yang serius.
jamovi — antarmuka grafis (point-and-click), gratis dan open source. Digunakan dalam workshop ini. Module SEMLj menyediakan EFA dan CFA dengan antarmuka yang user-friendly.
JASP — mirip jamovi, antarmuka grafis, gratis. Juga mendukung EFA dan CFA.
lavaan di — paket R yang paling lengkap dan fleksibel untuk SEM, CFA, EFA. Membutuhkan coding, tetapi memberikan kendali penuh atas spesifikasi model.
semopy di — alternatif di Python, sintaks mirip lavaan.
Mplus, LISREL, SPSS AMOS, EQS — perangkat lunak komersial dengan fitur lebih lengkap (termasuk power analysis dan simulasi), tetapi berbayar.
Untuk workshop ini
Kita akan menggunakan jamovi dengan module SEMLj. Untuk analisis yang lebih lanjut, lavaan sangat direkomendasikan.
Note