Human-AI Collaboration dan Reinforcement Learning from Human Feedback

MK Teknologi dalam Pembelajaran

2026-08-21

Outline

  • Apa sebenarnya akal imitasi? — dari model statistik ke large language model
  • Bagaimana AI “dibesarkan”pre-training, fine-tuning, dan reinforcement learning from human feedback
  • Automation vs. augmentation — kapan AI menggantikan, kapan AI melengkapi manusia?
  • Reinforcement learning untuk kolaborasi manusia-AI — mekanisme di balik kolaborasi yang adaptif
  • Risiko epistemik dalam kolaborasi manusia-AI — kapan kita salah tanpa menyadarinya
  • The effortless trap, cognitive debt, dan productive struggle — kapan bantuan AI justru menghambat belajar
  • Sintesis: merancang kolaborasi manusia-AI yang baik

Apa Sebenarnya Akal Imitasi? 🤖

Artificial intelligence a.k.a “akal imitasi”

  • Banyak orang menerjemahkan artificial intelligence sebagai “kecerdasan buatan” dalam Bahasa Indonesia, dan akibatnya, publik menganggap seolah-olah AI benar-benar cerdas
  • Padahal AI chatbot adalah model statistik dengan output teks (“large language model”) yang meniru proses dan produk kognisi manusia (“bahasa natural”)
  • Frasa akal imitasi mengingatkan kita pada dua hal sekaligus:
    • Kemampuan large language model (LLM) terasa natural seperti manusia karena kualitas teks outputnya memang sangat meyakinkan
    • Tapi ia bukan manusia, sehingga tidak punya pemahaman, niat, apalagi tanggung jawab
  • Konsekuensinya: yang bertanggung jawab atas output teks AI adalah kita sebagai penggunanya

AI tidak ujug-ujug diciptakan

  • 1950-an–1980-an — AI simbolik: manusia menuliskan aturan logikanya satu per satu (expert systems)
  • 1990-an–2000-anmachine learning: mesin belajar pola dari data, bukan lagi dari aturan eksplisit (e.g., spam filter)
  • 2010-andeep learning, permodelan bahasa yang meniru cara kerja jaringan saraf manusia; terobosan besar dalam rekognisi gambar dan suara (natural language processing, NLP)
  • 2017 — arsitektur transformer diperkenalkan, yang merupakan fondasi semua LLM modern
  • 2022 — OpenAI merilis GPT-3.5; generative AI menjadi fenomena massal

Model Statistik di Balik Layar

Large language model (LLM) pada intinya adalah model statistik raksasa dengan output teks yang menjawab satu pertanyaan:

“Dari semua input kata sejauh konteks percakapan ini, kata apa yang paling mungkin muncul berikutnya?”

Klik di sini ➡️ AnimatedLLM

Transformer dan mekanisme attention

Terobosannya adalah mekanisme attention: setiap kata bisa “memperhatikan” konteks dari semua kata lain dalam konteks untuk menentukan maknanya.

  • “Bisa ular itu amat mematikan” vs. “Saya bisa datang besok”
    • “Bisa” adalah kata yang sama, makna berbeda (i.e., “homonim”)
  • Model bahasa generasi sebelumnya membaca kata satu per satu secara berurutan; transformer memproses seluruh kalimat sekaligus, secara paralel
  • Paralelisme inilah yang memungkinkan training dengan data yang jauh lebih besar

Bagaimana LLM “dibesarkan”?

2️⃣ tahap utama:

  1. Pre-training — model membaca miliaran dokumen dan belajar memprediksi kata berikutnya
    • Hasilnya: base model yang menguasai pola bahasa, pengetahuan umum, bahkan penalaran, tapi belum bisa menjadi “asisten”
  2. Fine-tuning (termasuk reinforcement learning from human feedback, RLHF) — model dilatih mengikuti instruksi, menjawab dengan sopan, dan menolak permintaan tidak patut bahkan berbahaya
    • Hasilnya: Chatbot seperti ChatGPT, DeepSeek, atau Claude yang Anda kenal sekarang

Analogi proses psikologisnya

Pre-training ≈ pemerolehan bahasa dan pengetahuan; fine-tuning ≈ sosialisasi — belajar norma tentang bagaimana menggunakan kemampuan itu.

Optimasi LLM

Sumber: Ghali, et al. (2024)

Kemampuan AI meningkat drastis karena…

  1. Arsitektur — model transformer (2017) yang bisa diskalakan
  2. Data — teks digital dalam volume luar biasa besar di internet
  3. Hardware/Komputasi — GPU dan investasi besar-besaran pada AI data center

Dari chatbot ke agentic dan embodied AI

  • Chatbot — merespons pesan Anda satu per satu
  • Reasoning models — “berpikir” langkah demi langkah dulu sebelum menjawab
  • AI agent — merencanakan dan mengeksekusi tugas multi-langkah secara mandiri atas nama penggunanya, misalnya menjelajah web, memakai aplikasi, menulis dan menjalankan kode pemrograman
  • Embodied AI — akal imitasi yang diberi “tubuh”: robot yang “ditanam” LLM

Apa keterbatasan AI?

  • Halusinasi — menghasilkan output yang salah secara faktual, tetapi dengan tone yang sangat meyakinkan, termasuk mengarang referensi ilmiah
  • Knowledge cutoff — pengetahuannya berhenti di tanggal tertentu; kejadian terbaru tidak diketahuinya, kecuali dilengkapi fitur pencarian web
  • Context window terbatas — working memory-nya bisa penuh; percakapan dan dokumen yang sangat panjang terpaksa terpotong, tidak selesai diproses
  • Penalaran yang rapuh — LLM bisa memberikan jawaban yang sama sekali berbeda ketika promptnya diubah sedikit saja dari pola data trainingnya
  • Sycophancy — cenderung memberikan jawaban yang menyenangkan user, alih-alih mengoreksi kesalahan yang dilakukan oleh user

Automation vs. Augmentation: Dua Peran AI dalam Kolaborasi 🤝

Dua cara AI terlibat dalam pekerjaan berbasis penilaian

Fügener et al. (2026) meneliti peran AI dalam judgment tasks — tugas yang membutuhkan penilaian, bukan sekadar eksekusi mekanis:

  • Automation — AI menggantikan manusia sepenuhnya pada suatu tugas
  • Augmentation — AI memberi saran (advice) kepada manusia, yang kemudian mengambil keputusan akhir — disebut judge-advisor system

Pertanyaan penelitiannya

Bukan “AI atau manusia?”, tapi: kapan sebaiknya AI menggantikan, kapan sebaiknya AI mendampingi, dan kapan manusia sebaiknya bekerja tanpa AI sama sekali?

Dari mana complementarity manusia-AI berasal?

  • Between-task complementarity — manusia dan AI unggul pada jenis tugas yang berbeda
    • Contoh: tugas A (manusia 90%, AI 60%) dan tugas B (manusia 60%, AI 90%) — alokasikan tugas B ke AI, performa gabungan meningkat
  • Within-task complementarity — pada tugas yang sama, manusia dan AI membuat kesalahan yang berbeda dan bisa saling mengoreksi
    • Contoh: manusia dan AI sama-sama 70% akurat pada satu tugas, tapi kesalahannya tidak berkorelasi → jika manusia bisa membedakan saran AI yang benar dan salah, performa gabungan (augmented) bisa naik ke 91%

Bukti empiris: klasifikasi gambar

Studi eksperimental (klasifikasi gambar dari ImageNet) membandingkan performa akurasi:

  • Manusia sendirian: 68%
  • Automation (AI sendirian): 77%
  • Augmentation (manusia + saran AI): 80%
  • Kerangka gabungan (automasi + augmentasi + realokasi sumber daya manusia): 88%

Temuan kunci

Menggabungkan automasi, augmentasi, dan realokasi sumber daya manusia (manusia yang “dibebaskan” dari tugas yang diotomasi dialihkan ke tugas lain) memberi hasil jauh lebih baik daripada mengandalkan satu strategi saja.

Pola alokasi tugas yang optimal

Berdasarkan performa relatif AI pada suatu tugas, pola berikut konsisten muncul:

  • AI performa tinggi, tugas relatif mudah bagi AI → AI mengotomasi tugas tersebut sepenuhnya
  • AI dan manusia performanya setara → AI mengaugmentasi manusia (memberi saran, manusia memutuskan)
  • AI performa rendah, tugas sulit bagi AI → manusia bekerja tanpa AI

Kapan augmentasi tidak membantu?

Jika AI jauh lebih unggul dari manusia (mis. akurasi AI 84% vs. manusia 58%), melibatkan manusia dalam pengambilan keputusan justru tidak meningkatkan akurasi — augmentasi hanya bermanfaat jika ada complementarity nyata, bukan sekadar karena “melibatkan manusia terasa lebih aman”

Studi kasus dunia nyata: kapan manusia sebaiknya override AI?

Kesavan & Kushwaha (2020) — Eksperimen lapangan di ritel suku cadang otomotif

Karyawan diberi opsi meng-override rekomendasi alat data-driven.

  • Untuk produk tahap pertumbuhan (data historis sedikit) — manusia yang meng-override alat (augmentasi) tampil lebih baik
  • Untuk produk tahap matang/menurun (data historis banyak) — mengikuti rekomendasi alat (automasi) tampil lebih baik
  • Implikasinya: ketika data melimpah, AI cenderung lebih andal; ketika data terbatas, pengalaman dan intuisi manusia menjadi lebih berharga

Bayang-bayang di masa depan: risiko kehilangan tacit knowledge

  • Complementarity manusia-AI mengandaikan manusia punya pengetahuan tak-terkodifikasi (tacit knowledge) yang tidak dimiliki AI
  • Tapi jika kolaborasi manusia-AI menjadi terlalu erat, manusia berisiko berhenti berpikir aktif tentang tugasnya — dan tacit knowledge itu sendiri terancam hilang
  • Ini persis kekhawatiran deskilling yang akan kita bahas lebih dalam di sesi tentang AI fluency — kolaborasi yang nyaman hari ini bisa mengikis kompetensi jangka panjang

Reinforcement Learning untuk Kolaborasi Manusia-AI 🎮

Mengapa reinforcement learning?

Li et al. (2025) meninjau bagaimana reinforcement learning (RL) — AI yang belajar lewat mekanisme reward dan trial-and-error — memperkuat kolaborasi manusia-AI:

  • RL cocok untuk kolaborasi karena adaptif: sistem terus menyesuaikan tindakannya berdasarkan interaksi dengan manusia, agen lain, dan lingkungan — tidak seperti aturan statis
  • Kolaborasi terjadi lewat umpan balik dua arah: interaksi manusia menjadi sinyal training untuk AI, sementara strategi AI yang dipersonalisasi tetap menyisakan hak veto manusia pada keputusan kritis

Pembagian peran manusia dan sistem AI

Komponen RL Peran Manusia Peran Sistem AI
Ruang keadaan Memberi pengetahuan domain Menghitung variabel real-time
Ruang aksi Menentukan jenis aksi yang tersedia Memilih aksi optimal
Fungsi reward Menentukan bobot tujuan Menghitung reward multi-objektif
Penerapan kebijakan Mengambil keputusan akhir Menghasilkan kebijakan personal
Data pelatihan Menyediakan log interaksi Mengekstraksi pola untuk training

Bukti empiris: RL dibanding metode lain

Perbandingan performa RL vs. metode non-RL (klasifikasi tradisional, behavior cloning, imitation learning) di 4 ranah kolaborasi manusia-AI:

  • Tugas pengepakan (packaging) — RL unggul 36% lebih tinggi dibanding klasifikasi supervised
  • Permainan kolaboratif Overcooked — RL unggul 273% dibanding strategi self-play
  • Resep olahraga personal — RL meningkatkan akurasi keputusan 15%, konsisten pada pengguna dengan kebutuhan kognisi rendah maupun tinggi
  • Mengemudi otonom — RL dengan umpan balik manusia mencapai 85% tingkat keberhasilan, dibanding 0% untuk pendekatan imitation learning murni

Tiga tantangan utama kolaborasi manusia-AI berbasis RL

  1. Keselarasan dengan perilaku manusia (alignment) — perilaku manusia dipengaruhi bias kognisi, emosi, dan konteks yang sulit diprediksi AI secara presisi
  2. Adaptabilitas di lingkungan dinamis — dunia nyata jauh lebih bervariasi daripada kondisi training yang terkendali; AI harus mampu beradaptasi pada perubahan yang belum pernah dilihat
  3. Komunikasi dan koordinasi — terutama saat AI harus berkoordinasi dengan banyak manusia/agen sekaligus, kesalahpahaman instruksi bisa berakibat fatal (mis. robot kolaboratif di lingkungan industri)

RLHF: RL dari umpan balik manusia

  • Reinforcement learning from human feedback (RLHF) adalah salah satu metode RL yang secara spesifik memakai penilaian/preferensi manusia sebagai sinyal reward
  • Inilah mekanisme yang kita bahas di awal sesi — bagian dari fine-tuning yang mengubah base model LLM menjadi chatbot yang sopan dan mengikuti instruksi
  • Tapi cakupannya lebih luas dari LLM saja: RLHF juga dipakai pada robotika, kendaraan otonom, dan sistem tutor personal — di mana pun preferensi manusia sulit dituliskan sebagai aturan eksplisit, tapi mudah “dicontohkan” lewat umpan balik

Menghubungkan kembali ke augmentation

RLHF pada dasarnya adalah augmentasi di tingkat pelatihan model: bukan manusia mengoreksi output AI satu per satu secara manual selamanya, tapi umpan balik manusia diserap AI untuk memperbaiki perilakunya secara bertahap

Risiko Epistemik dalam Kolaborasi Manusia-AI 🌀

Bukan cuma soal performa, tapi soal bagaimana kita tahu

  • Sejauh ini kita membahas kolaborasi manusia-AI dari sisi performa (akurasi, kecepatan, efisiensi)
  • Tapi ada risiko yang lebih mendasar: risiko epistemik — risiko terhadap cara kita membentuk keyakinan, menilai kebenaran, dan menyadari batas pengetahuan kita sendiri ketika AI ikut campur dalam prosesnya
  • Risiko ini sering tidak terlihat dalam metrik performa standar — justru karena itu jauh lebih mudah luput dari perhatian

Ironi RLHF: melatih sycophancy, bukan kebenaran

  • Ingat sycophancy pada slide “keterbatasan AI” di awal sesi? Ternyata itu bukan kebetulan — ia berakar pada cara RLHF melatih model
  • Sharma et al. (2023) menemukan: manusia (dan model reward yang meniru preferensi manusia) lebih memilih jawaban yang meyakinkan dan sejalan dengan pandangan mereka, dibanding jawaban yang benar tapi tidak sesuai ekspektasi — pada sebagian kasus yang tidak sedikit
  • Karena reward model dilatih dari preferensi manusia semacam ini, optimisasi RLHF bisa secara sistematis mendorong model ke arah “menyenangkan”, bukan “benar”

Implikasinya

Semakin “dipoles” lewat RLHF supaya terasa membantu dan sopan, sebuah model berpotensi semakin pandai terdengar meyakinkan — tanpa proporsional lebih akurat. Kefasihan bahasa AI bukan jaminan kebenaran isinya.

Bias otomasi dalam sistem judge-advisor

  • Ingat kerangka augmentation (Fügener et al., 2026): manusia menerima saran AI, lalu memutuskan
  • Risiko epistemiknya: manusia cenderung terlalu percaya pada saran yang datang dari sistem yang tampak “objektif” dan konsisten (automation bias), terutama saat kelelahan atau tugasnya rutin
  • Augmentasi hanya benar-benar bermanfaat kalau manusia mampu membedakan saran AI yang benar dan salah — begitu kemampuan membedakan ini melemah, augmentasi diam-diam berubah menjadi automasi tanpa disadari

Ilusi pemahaman: “the effortless trap”

  • Brčić & Frljić (2026) — bacaan wajib Anda — menunjukkan bahwa AI generatif yang dipakai secara tidak tepat bisa menciptakan ilusi belajar: rasa percaya diri menguasai materi yang runtuh begitu diuji tanpa bantuan AI
  • Risiko epistemiknya bersifat ganda: bukan hanya salah paham, tapi tidak menyadari bahwa diri sendiri salah paham — inilah yang membuatnya berbahaya
  • Terhubung dengan konsep kegagalan invisible (Potts & Sudhof, 2026): percakapan dengan AI terasa sukses, padahal pemahaman yang terbentuk keliru atau dangkal — akan dibahas lebih dalam pada sesi AI fluency

Pertanyaan reflektif

Kapan terakhir kali Anda merasa yakin memahami sesuatu setelah berdiskusi dengan AI, tapi ternyata tidak bisa menjelaskannya ulang tanpa membuka kembali percakapan tersebut?

Bukti konkret: desain alatnya, bukan alatnya, yang menentukan

  • RCT hampir 1.000 siswa SMA matematika (Bastani et al., 2025): kelompok dengan AI tanpa pengaman (langsung memberi jawaban) tampil lebih baik selama latihan, tapi skor 17% lebih rendah dibanding kelompok tanpa akses AI sama sekali pada ujian mandiri
  • Kelompok dengan AI berpengaman (menahan jawaban, memberi petunjuk ala guru) memakai model yang sama persis — dan kerugian itu hilang
  • Kesimpulannya tajam: bukan kehadiran AI yang merusak pembelajaran, tapi desain perannya — memberi jawaban di titik yang seharusnya diperjuangkan siswa sendiri

Sisi sebaliknya

Sebuah RCT terpisah pada mahasiswa fisika menemukan tutor AI yang dirancang cermat menghasilkan lebih dari 2 kali lipat pembelajaran dibanding kelas active-learning yang kuat — dalam waktu lebih singkat (Kestin et al., 2025). AI bukan musuh pembelajaran; penempatannya yang menentukan.

Mengapa “terasa mudah” bisa menipu

  • Pembelajaran terjadi ketika siswa melakukan bagian yang berat secara kognitif — yang disebut ilmu kognisi sebagai productive struggle (Kapur, 2008)
  • AI yang mengerjakan bagian itu terasa membantu, padahal menghilangkan justru kerja yang membangun keterampilan
  • Bukti langsungnya: mahasiswa di kelas aktif yang efortful menilai diri mereka belajar lebih sedikit, padahal secara objektif mereka belajar lebih banyak (Deslauriers et al., 2019) — perasaan lancar (fluent) bukan indikator belajar yang valid

Studi kasus yang relevan untuk Anda

Programmer yang diberi asisten AI menyelesaikan tugas coding dengan baik, tapi skornya jauh lebih rendah pada tes konsep di balik kode yang baru saja mereka buat sendiri (Shen & Tamkin, 2026). Pola yang sama sangat mungkin berlaku pada penulisan akademik dan analisis data.

Cognitive debt: bukti (yang diperdebatkan) dari neurosains

  • Studi MIT Media Lab (Kosmyna et al., 2025) merekam aktivitas otak (EEG) 54 partisipan menulis esai dengan tiga kondisi: hanya otak, mesin pencari, atau ChatGPT
  • Temuan utama: konektivitas otak paling lemah pada kelompok pengguna LLM, moderat pada pengguna mesin pencari, dan paling kuat/tersebar pada kelompok tanpa alat bantu
  • Pengguna LLM juga paling kesulitan mengutip esai yang baru saja mereka tulis sendiri — indikasi rendahnya rasa kepemilikan terhadap karya sendiri
  • Istilah cognitive debt menggambarkan gagasan bahwa kemudahan hari ini bisa “berutang” pada kapasitas kognitif di masa depan

Bacalah dengan hati-hati

Studi ini masih berupa preprint dan metodologinya diperdebatkan — ada kritik terbit yang mempertanyakan temuannya (Stankovic et al., 2025). Perlakukan cognitive debt sebagai hipotesis yang sedang diuji, bukan fakta yang sudah mapan — contoh baik untuk melatih discernment Anda sendiri terhadap literatur ilmiah yang berkembang cepat.

Enam gerakan belajar: kerangka penempatan AI

Brčić & Frljić (2026) menawarkan kerangka praktis: belajar satu ide baru terjadi lewat enam gerakan, berurutan:

  1. Prime — memantik minat, membangunkan pengetahuan awal — AI boleh membantu (bikin analogi, contoh pemantik)
  2. Probe — siswa menghadapi masalah sulit tanpa bantuan dulu — AI harus keluar, inilah perjuangan yang membangun
  3. Point — guru membimbing lewat pertanyaan, bukan jawaban — AI sebagai tutor berpengaman: petunjuk, bukan solusi
  4. Attach — barulah contoh yang sudah dikerjakan ditunjukkan — AI boleh membuat contoh yang relevan
  5. Strengthen — latihan bervariasi memperkuat pemahaman — AI bisa menyediakan latihan tanpa batas
  6. Test — siswa diuji sendirian, tanpa bantuan — AI harus keluar total; inilah satu-satunya bukti bahwa belajar benar-benar terjadi

Aturan penempatan: kapan AI boleh masuk?

Diagnostik satu kalimat

Jika membiarkan AI masuk membuat tugas terasa tanpa usaha (effortless), AI kemungkinan besar sedang menggantikan pekerjaan yang seharusnya membangun keterampilan itu sendiri.

  • Aturannya per keterampilan, bukan per mata kuliah — AI bisa pantas dipakai di satu bagian tugas dan harus dihindari di bagian lain, dalam jam yang sama
  • AI punya dua peran sah: memangkas kerja rutin yang bukan inti pembelajaran, dan menambah kepadatan latihan/umpan balik yang mustahil disediakan satu pengajar untuk semua orang
  • Yang tidak boleh dilakukan AI: mengerjakan perjuangan kognitif yang justru menjadi inti dari apa yang sedang dipelajari, dan mengaburkan bukti bahwa siswa benar-benar bisa berpikir/berkinerja mandiri

Mengelola risiko epistemik dalam kolaborasi

  • Jangan menyamakan kefasihan bahasa dengan kebenaran — model yang dilatih untuk terdengar meyakinkan tidak otomatis lebih akurat
  • Pertahankan “hak veto” epistemik — selalu sisakan ruang untuk menyatakan tidak setuju atau meminta AI menunjukkan dasar argumennya
  • Terapkan aturan penempatan — amankan usaha pertama (Probe) dan uji akhir mandiri (Test) Anda sendiri; gunakan AI dengan pengaman di antara keduanya
  • Keempat strategi ini adalah bibit dari kompetensi discernment yang akan kita bahas tuntas di sesi AI literacy dan fluency

Sintesis: Merancang Kolaborasi Manusia-AI yang Baik 🧩

Menyatukan dua kerangka

  • Kerangka automation vs. augmentation (Fügener et al., 2026) menjawab pertanyaan “tugas mana” yang sebaiknya diotomasi, diaugmentasi, atau dikerjakan manusia sendiri
  • Kerangka RL untuk kolaborasi (Li et al., 2025) menjawab pertanyaan “bagaimana” sistem AI itu bisa terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perilaku manusia dari waktu ke waktu
  • Keduanya bertemu pada satu prinsip: kolaborasi manusia-AI yang baik membutuhkan complementarity yang dikelola secara sengaja, bukan sekadar “menambahkan AI” ke proses yang sudah ada

Rangkuman

  • AI adalah model statistik yang “dibesarkan” lewat pre-training dan fine-tuning (termasuk RLHF) — bukan entitas yang benar-benar “berpikir”.
  • Automation menggantikan manusia; augmentation melengkapi manusia lewat saran — pilihannya bergantung pada jenis complementarity yang tersedia.
  • Bukti empiris menunjukkan kombinasi automasi + augmentasi + realokasi sumber daya manusia memberi hasil terbaik.
  • Reinforcement learning (termasuk RLHF) adalah mekanisme di balik AI yang terus beradaptasi lewat interaksi dengan manusia — tapi tetap menghadapi tantangan keselarasan, adaptabilitas, dan koordinasi.
  • Risiko epistemik mengintai di balik kefasihan AI: RLHF bisa melatih sycophancy, augmentasi bisa merosot jadi automation bias, dan kolaborasi yang nyaman bisa menciptakan ilusi pemahaman.
  • The effortless trap mengajarkan: yang menentukan bukan ada/tidaknya AI, tapi di titik mana dalam proses belajar ia ditempatkan — amankan Probe dan Test, gunakan AI berpengaman di antaranya.
  • Kolaborasi yang terlalu erat berisiko mengikis tacit knowledge manusia (dan berpotensi menimbulkan cognitive debt) — pertanyaan yang akan kita dalami lebih jauh di sesi tentang AI literacy dan fluency.

Ada pertanyaan❓

Catatan

Rujukan

  • Bastani, H., Bastani, O., Sungu, A., Ge, H., Kabakcı, Ö., & Mariman, R. (2025). Generative AI without guardrails can harm learning: Evidence from high school mathematics. Proceedings of the National Academy of Sciences, 122(26), Article e2422633122. https://doi.org/10.1073/pnas.2422633122
  • Brčić, M., & Frljić, S. (2026). The effortless trap: Productive struggle, AI, and the illusion of learning. arXiv. https://doi.org/10.48550/arXiv.2606.26181
  • Deslauriers, L., McCarty, L. S., Miller, K., Callaghan, K., & Kestin, G. (2019). Measuring actual learning versus feeling of learning in response to being actively engaged in the classroom. Proceedings of the National Academy of Sciences, 116(39), 19251–19257. https://doi.org/10.1073/pnas.1821936116
  • Fügener, A., Walzner, D. D., & Gupta, A. (2026). Roles of artificial intelligence in collaboration with humans: Automation, augmentation, and the future of work. Management Science, 72(1), 538–557. https://doi.org/10.1287/mnsc.2024.05684
  • Ghali, M.-K., Farrag, A., Sakai, H., El Baz, H., Jin, Y., & Lam, S. (2024). GAMedX: Generative AI-based medical entity data extractor using large language models. arXiv. https://arxiv.org/abs/2405.20585
  • Kapur, M. (2008). Productive failure. Cognition and Instruction, 26(3), 379–424. https://doi.org/10.1080/07370000802212669
  • Kesavan, S., & Kushwaha, T. (2020). Field experiment on the profit implications of merchants’ discretionary power to override data-driven decision-making tools. Management Science, 66(11), 5182–5190. https://doi.org/10.1287/mnsc.2020.3743
  • Kestin, G., Miller, K., Klales, A., Milbourne, T., & Ponti, G. (2025). AI tutoring outperforms in-class active learning: An RCT introducing a novel research-based design in an authentic educational setting. Scientific Reports, 15, Article 17458. https://doi.org/10.1038/s41598-025-97652-6
  • Kosmyna, N., Hauptmann, E., Yuan, Y. T., Situ, J., Liao, X.-H., Beresnitzky, A. V., Braunstein, I., & Maes, P. (2025). Your brain on ChatGPT: Accumulation of cognitive debt when using an AI assistant for essay writing task. arXiv. https://arxiv.org/abs/2506.08872
  • Li, W., Liu, H., Huang, K., & Hussain, A. (2025). Reinforcement learning for human-AI collaboration: Challenges, mechanisms, and methods. Cognitive Computation, 17, Article 146. https://doi.org/10.1007/s12559-025-10500-7
  • Potts, C., & Sudhof, M. (2026). A paradox of AI fluency. arXiv. https://doi.org/10.48550/arXiv.2604.25905
  • Sharma, M., Tong, M., Korbak, T., Duvenaud, D., Askell, A., Bowman, S. R., Cheng, N., Durmus, E., Hatfield-Dodds, Z., Johnston, S. R., Kravec, S., Maxwell, T., McCandlish, S., Ndousse, K., Rausch, O., Schiefer, N., Yan, D., Zhang, M., & Perez, E. (2023). Towards understanding sycophancy in language models. arXiv. https://arxiv.org/abs/2310.13548
  • Shen, J. H., & Tamkin, A. (2026). How AI impacts skill formation. arXiv. https://arxiv.org/abs/2601.20245
  • Stankovic, M., Hirche, E., Kollatzsch, S., & Doetsch, J. N. (2025). Comment on: Your brain on ChatGPT: Accumulation of cognitive debt when using an AI assistant for essay writing tasks. arXiv. https://arxiv.org/abs/2601.00856
  • Vaswani, A., Shazeer, N., Parmar, N., Uszkoreit, J., Jones, L., Gomez, A. N., Kaiser, Ł., & Polosukhin, I. (2017). Attention is all you need. Advances in Neural Information Processing Systems, 30, 5998–6008.