Literasi Data dan Penulisan Ilmiah
2026-09-25
“Apa yang saya harapkan audiens saya lakukan/pahami dari data yang saya miliki ini?”
Perbedaannya menurut Open Knowledge Foundation (2021):
Data visualization
Infografis
Open Knowledge Foundation (2021) membedakan tiga elemen yang bisa Anda tonjolkan saat menyajikan data:
Beberapa contoh yang menarik:
Ingat Pertemuan 1: perbedaan data kategorikal dan numerik sekarang menentukan pilihan grafik Anda.
Cara termudah memilih visualisasi: lengkapi kalimat “Saya ingin menunjukkan…” (Open Knowledge Foundation, 2021)
| Saya ingin menunjukkan… | Jenis visualisasi |
|---|---|
| Jumlah partisipan pada tiap kategori usia | Perbandingan (comparison) |
| Proporsi partisipan yang skor Extraversion-nya tinggi vs rendah | Perbandingan, bagian-dari-keseluruhan |
| Perubahan rata-rata skor kesejahteraan dari minggu ke minggu | Perbandingan, pola, data dari waktu ke waktu |
| Sebaran skor Conscientiousness di seluruh sampel | Distribusi |
Diadaptasi dari Open Knowledge Foundation, 2021:
Tidak ada daftar jenis visualisasi data yang lengkap. Satu grafik bisa saja memenuhi lebih dari satu tujuan sekaligus. Yang penting: rumuskan tujuannya dulu, baru pilih grafiknya.
Buku Storytelling with Data (Knaflic, 2015) merangkum enam prinsip inti untuk penyajian data yang efektif:
Sudah kita bahas di bagian sebelumnya: cocokkan jenis data dan jenis visualisasi dengan bentuk grafik yang tepat. Jangan biarkan perangkat lunak “menebak” kemauan Anda, karena ia tidak tahu audiens dan konteks proyek Anda.
Data tanpa narasi hanyalah angka-angka yang tidak bisa langsung dipahami maknanya. Visualisasi yang baik punya alur: situasi awal, ketegangan/temuan yang mengejutkan, dan resolusi/implikasi, persis seperti cerita yang baik pada umumnya.
Ini menyambung ke apa yang sudah kita bahas di Pertemuan 6 tentang hedging language. Hedging membantu untuk menjaga transparansi narasi, meskipun narasi itu juga perlu menarik agar mudah diingat.
Kita hitung skor Extraversion (setelah item reverse-scored dibalik, seperti prosedur Pertemuan 4-5) dari 19.511 partisipan dalam dataset kita (setelah pembersihan; data mentahnya 19.719 baris), dipilah berdasarkan gender.
“Saya ingin menunjukkan” perbandingan rata-rata skor Extraversion antara dua kategori gender → tugasnya adalah perbandingan → kandidat grafik: bar chart sederhana, dua batang.
Kedua grafik pada slide berikutnya dibuat dengan package ggplot2 langsung dari data/data.csv. Skripnya ada di slides/libs/make_pertemuan7_charts.R kalau Anda ingin melihat/menjalankannya sendiri.

Sumbu-y yang dipotong adalah salah satu cara paling umum (dan paling menyesatkan) untuk membuat perbedaan kecil seolah-olah terlihat besar.

n yang sangat besar membuatnya sangat sempit.Signifikan secara statistik ≠ besar secara praktis
Dengan n sebesar ini, CI kedua kelompok tidak tumpang tindih, sehingga secara statistik perbedaannya signifikan, meskipun perbedaannya hanya ~0.10 poin pada skala 1–5.
Grafik tadi bagus untuk audiens umum, tapi naskah akademik (Pertemuan 6, APA style) tetap butuh tabel angka lengkap:
| Gender | n | M | SD | 95% CI |
|---|---|---|---|---|
| Laki-laki | 7,583 | 2.95 | 0.92 | [2.93, 2.97] |
| Perempuan | 11,928 | 3.05 | 0.92 | [3.04, 3.07] |
Perhatikan tabel ini mengikuti prinsip yang sama dari Pertemuan 2: judul kolom jelas, satuan tersirat dari konteks (skala 1–5), dan sumber datanya (data/data.csv, dataset Big Five) sudah disebutkan pada slide sebelumnya.
Perhatikan grafik berikut ini. Terapkan enam prinsip storytelling with data untuk mengkritiknya:
Kembali ke pembahasan “tiga jenis audiens” (Pertemuan 6): untuk komunitas akademik serumpun → grafik spreadsheet dalam naskah sudah cukup. Untuk publik awam → pertimbangkan infografis Canva. Jadi, alat bantu mengikuti audiens, bukan sebaliknya.
Ada pertanyaan?
Paparan disusun dengan menggunakan dan Quarto dengan template dari UNAIR Theme.