MK Teknologi dalam Pembelajaran
2026-09-25

AI literacy
AI fluency
Analoginya seperti belajar bahasa: literacy = bisa membaca; fluency = bisa bercakap-cakap dengan fasih/lancar.
Implikasinya untuk pengajaran
Peserta didik tidak perlu “lulus” literasi dulu baru belajar fluency; keduanya bisa dikembangkan secara paralel.
“Seperangkat kompetensi yang memampukan seseorang untuk mengevaluasi teknologi AI secara kritis; berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan AI; dan menggunakan AI sebagai alat, baik daring, di rumah, maupun di tempat kerja.” — Long & Magerko (2020)
Kerangka ini mengelompokkan 17 kompetensi ke dalam lima pertanyaan besar:
Kerangka ini awalnya dirancang untuk pendidikan K-12, tapi kompetensinya berlaku lintas jenjang pendidikan.
Definisi
Kemampuan berkolaborasi dengan AI secara efektif, efisien, etis, dan aman (Dakan & Feller, 2025).
Kerangka ini dibangun di atas 3 modalitas interaksi manusia-AI:
Catatan
Delegation dan description → efektif dan efisien; discernment dan diligence → etis dan aman.
Tiga kompetensi inti:
Contoh untuk tesis Anda:
| Tugas | Delegasi |
|---|---|
| Merumuskan pertanyaan penelitian | Anda (AI boleh menjadi mitra diskusi) |
| Memoles bahasa akademik naskah | AI, lalu Anda sunting |
| Menginterpretasi hasil analisis | AI dan Anda bersama, AI menawarkan alternatif, Anda membuat keputusan akhir |
{colwidth=“[35, 65]”}
Kualitas output AI sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi Anda:
Perlakukan AI sebagai kolaborator, bukan “jin botol”🧞
Komunikasikan dan evaluasi output AI, meskipun Anda menolaknya. Jelaskan alasannya supaya AI bisa menyesuaikan output berikutnya dalam percakapan yang sama. Ingat prinsip RLHF yang sudah didiskusikan di Pertemuan 7.
Cara Anda menilai output AI:
Bayangkan Anda sebagai detektif🕵️♀️
Menemukan kesalahan pada output AI adalah bukti Anda menggunakannya dengan benar
Domain expertise sebagai guardrail utama
Tanpa keahlian di bidang Anda sendiri, keempat kompetensi ini sulit dijalankan: Anda tidak akan mampu menilai apakah output AI benar-benar akurat atau sekadar terdengar meyakinkan.
Potts & Sudhof (2026) menganalisis 26.958 transkrip percakapan manusia-AI dari WildChat-4.8M:
Kesimpulannya
Fluency menentukan apakah AI di tangan Anda menjadi produsen AI slop, atau asisten yang bisa diandalkan.
Cash et al. (2026) menyebutkan risiko yang timbul akibat cognitive offloading ketika manusia berkolaborasi bersama AI:
Studi endoscopist deskilling
Sebelum AI diperkenalkan, dokter mendeteksi adenoma pada 28.4% kasus. Setelah AI tersedia (meski akses ke AI-nya tidak sepenuhnya diacak), tingkat deteksi tanpa AI turun menjadi 22.4%, mengindikasikan kompetensi dokter menurun setelah terbiasa dibantu AI.
Ada pertanyaan?
Paparan disusun dengan menggunakan dan Quarto dengan template dari UNAIR Theme.